WNI Patriasi Keluhkan Fasilitas Karantina Wisma Atlet

Tajuk.co 20/5/2020 23:43 WIB
image
Pembagian makanan untuk masyarakat yang di karantina di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Tajuk.co, JAKARTA - Seorang kandidat doktor Universitas Twente, Belanda, Kunaifi mengeluhkan fasilitas karantina yang disediakan di Tower 9, Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta.

Tower 9 Wisma Atlet menjadi tempat karantina bagi sejumlah WNI repatriasi yang baru saja tiba di tanah air dan kini menunggu hasil rapid test Covid-19.

Kunaifi sendiri merupakan WNI yang terpaksa pulang ke Indonesia di tengah pandemi bersama istri dan dua anak anaknya, karena visa dan beasiswanya yang hampir habis.

Ada tiga keluhan yang diutarakan Kunaifi lewat tulisannya yang belakangan beredar luas di jagat media sosial. Adapun ketiga keluhan tersebut antara lain masalah distribusi makanan dan porsi makanan.

Dalam keluhannya, Kunaifi menilai porsi dan distribusi makanan yang didapat para penghuni wisma terbilat cukup sedikit, sehingga mengakibatkan beberapa penghuni lain tak kebagian, bahkan berebut satu sama lain demi mendapat makanan.

"Mengapa jumlah makanan selalu kurang? Mungkin karena porsi setiap kotaknya terlalu kecil. Anak saya yang besar dan kawan-kawan ABK yang masih muda-muda dan kuat-kuat itu butuh porsi paling tidak tiga lipat dibanding yang dibagikan. Walhasil mereka ambil lebih dari satu kotak sehingga yang ingin jaga jarak tak kebagian jatah karena keduluan mereka yang 'kuat berebut.'  Mereka tak salah mengambil lebih, karena porsinya memang kecil," kata Kunaifi dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (20/5/2020).

Terkait masalah makanan, hal yang juga dikeluhkan adalah proses pengambilannya, dimana pada hari Sabtu makanan dibagikan di lantai 1. Setiap orang mengambil makanan sendiri ke kantong-kantong plastik orang turun ke sana dan berdesakan tanpa jarak.

Sementara di hari Senin orang dilarang turun ke lantai 1. Makanan diantar ke setiap lantai. Tapi jumlah makanan selalu kurang sehingga orang mulai berebut.

"Lagi-lagi, tak ada jaga jarak saat berebut makanan di setiap lantai," ungkapnya.

Kedua, penggunaan lift yang terlalu padat membuat jarak antar pengguna bisa bersentuhan. Masalah ini sama terjadi pada hari Sabtu, dimana saat itu, kata Kunaifi aparat TNI yang menjaga lift di lantai 1 malah berusaha memenuhkan lift.

"Di dalam lift, bahu ketemu bahu. Anak-anak saya ketakutan bersentuhan serapat itu dengan orang-orang yang baru datang dari negara-negara pandemi Covid, saya dan istri juga takut. Sudah 2 bulan lebih kami di rumah saja di eropa sehingga agak ketakutan bertemu orang serapat itu. Tapi jika menunggu lift sepi, kami tak kan pernah sampai ke kamar di lantai 19. Koper kami 5 dan besar2, tak bisa diangkat lewat tangga walaupun kami ingin melakukannya," keluh Kunaifi.

Ketiga, protokol masuk ke Wisma Atlet yang dinilai amburadul. Kunaifi bersama keluarganya memgeluhkan minimnya pemberitahuan atau papan petunjuk yang mengingatkan para penghuni wisma akan bahaya Covid-19.

"Orang seolah dituntut untuk cerdas sendiri. Orang tak tahu apa yang dilarang sehingga tetap melakukan kesalahan dan membuat pak TNI marah marah di mikrofon. Tapi orang tidak tahu protokol kesehatan Covid yang benar itu seperti apa? Masih ada yang keluar kamar tanpa masker. Tidak sedikit yang ngobrol bergerombol sambil berpelukan. Ada yang makan di tangga," tuturnya.

Ia berharap masalah ini bisa segera diselesaikan, demi memutus rantai penyebaran Covid-19 khususnya dari sektor WNI repatriasi yang ditempatkan di Wisma Atlet.

"Pengelola wisma melihat masalah dari sudut pandang mereka. Saya melihat dari sudut pandang selaku warga wisma. Tidak untuk menyalahkan siapa-siapa, tapi andai kedua sudut pandang dipertemukan, mungkin kita lebih cepat membuat perbaikan," kata Kunaifi.(BPP)