Youtube dan WhatsApp Blokir Konten Taliban

Tajuk.co 19/8/2021 07:08 WIB
image

Tajuk.co, KABUL -- YouTube tidak mengizinkan akun yang diyakini dioperasikan oleh Taliban di situsnya. Perusahaan media sosial itu tengah menghadapi pertanyaan tentang bagaimana mereka akan menangani kelompok yang dengan cepat menguasai Afghanistan.

Kembalinya kekuasaan Taliban setelah dua puluh tahun telah menimbulkan kekhawatiran akan tindakan kekerasan terhadap kebebasan berbicara dan hak asasi manusia, terutama hak-hak perempuan. Serta kekhawatiran bahwa Afghanistan dapat kembali menjadi hotspot terorisme global.

Youtube menegaskan bahwa larangannya terhadap kelompok itu adalah pendekatan yang sudah berlangsung lama.

Pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban di Afghanistan menimbulkan tantangan bagi beberapa media sosial utama dan platform perpesanan tentang apa dan siapa yang harus diizinkan di platform mereka.

Mengutip Gadgets 360, perusahaan perpesanan, WhatsApp Facebook telah menutup saluran bantuan pengaduan bagi warga Afghanistan untuk menghubungi Taliban, yang dibentuk oleh kelompok itu setelah menguasai Kabul pada hari Minggu.

Juru bicara Facebook mengatakan kepada CNBC bahwa mereka telah melarang segala konten propaganda Taliban sejak lama. Mereka akan tetap menerapkan larangan itu karena Taliban masih masuk daftar kelompok yang dianggap teroris oleh Amerika Serikat.

"Taliban ditetapkan sebagai organisasi teroris di bawah hukum AS dan kami melarang mereka dalam layanan kami di bawah kebijakan Organisasi Berbahaya yang kami terapkan," ujar seorang juru bicara Facebook, Selasa (17/8).

Nomor pengaduan yang merupakan hotline darurat bagi warga sipil untuk melaporkan kekerasan, penjarahan atau masalah lain diblokir oleh Facebook pada Selasa (17/8), bersama dengan saluran resmi Taliban lainnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Facebook sudah membentuk satu tim untuk mengawasi konten-konten terkait Taliban. Tim itu akan langsung menghapus unggahan, gambar, video, dan konten lainnya yang berkaitan dengan Taliban.

Tim itu juga akan menghapus akun-akun yang dikelola atau mewakili Taliban. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga akan menghapus akun-akun yang membela atau mendukung Taliban.

Di lain pihak, seorang juru bicara Taliban menuduh Facebook telah memotong dan menyensor konferensi pers mereka. Sementara itu, Twitter sedang meninjau aturannya untuk para pemimpin dunia di platform tersebut.

Dikutip The Hindu, juru bicara Twitter mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa jaringan tersebut akan meninjau konten yang mungkin melanggar aturannya, khususnya terhadap kekerasan atau manipulasi platform. (FHR)