Tajuk.co, BRUSSELS — Sejumlah negara Eropa menolak permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengirim kapal perang atau pasukan guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Penolakan ini menunjukkan perbedaan sikap antara Washington dan sekutu-sekutunya terkait respons militer terhadap krisis di kawasan Teluk.
Permintaan tersebut muncul setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Trump meminta negara-negara sekutu untuk membantu operasi militer guna membuka kembali jalur tersebut bagi kapal-kapal tanker minyak dan perdagangan internasional.
Namun sejumlah negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol menyatakan tidak berencana mengirim kapal perang ataupun terlibat dalam operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat. Para pemimpin Eropa khawatir keterlibatan militer dapat memperluas konflik dan meningkatkan ketegangan dengan Iran.
Pemerintah Jerman menegaskan bahwa NATO merupakan aliansi pertahanan dan tidak memiliki mandat untuk terlibat dalam operasi militer semacam itu di Selat Hormuz. Berlin juga menyatakan lebih memilih mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi daripada eskalasi militer.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi global serta mengganggu rantai pasok internasional.
Penolakan negara-negara Eropa terhadap permintaan Washington memperlihatkan adanya perbedaan pendekatan dalam menangani krisis di kawasan Teluk, dengan sebagian negara memilih langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan dibandingkan keterlibatan militer langsung.
