“Hawaii: Part II” – Unik, Misterius dan Nyaris Tersembunyi

(M. Sayyid Arkan – Mahasiswa Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjaran)

“Genrenya adalah ketidakterbatasan yang diekspresikan melalui hologram.”

— Sarah Larson, 2020

Bagi sebagian besar orang, musik adalah hiburan. Tapi bagi sebagian lain, musik adalah seni—sebuah medium ekspresi yang melampaui sekadar nada dan irama. Di antara miliaran album yang beredar di dunia, ada satu karya yang begitu unik, misterius, dan nyaris tersembunyi: “Hawaii: Part II” dari Miracle Musical.

Rilis dengan Waktu yang Ajaib

Bayangkan sebuah album yang dirilis pada 12 Desember 2012, pukul 12:12 tepat. Kebetulan? Tentu tidak. “Hawaii: Part II” adalah proyek soliter dari Joe Hawley, anggota band Tally Hall. Namun album ini tidak dibuat sendirian—hampir semua anggota Tally Hall dan musisi kehormatan Bora Karaca ikut terlibat. Hasilnya? Sebuah album yang tidak bisa didefinisikan dengan satu genre. Tema yang diusung pun liar: luar angkasa, mistisisme kuno, surga tropis, alam semesta paralel, cinta, kematian, hingga sihir. Semua itu terpancar dari sampul album yang surealis dan membingungkan.

Bukan Sekadar Album, Apakah ini Sebuah Kisah Tragis?

Kebanyakan album hanya kumpulan lagu, tapi “Hawaii: Part II” memiliki alur cerita yang utuh. Inilah sinopsisnya:

Simon berlayar ke Hawaii. Di sana ia jatuh cinta. Namun kebahagiaan sirna saat pasangannya dibunuh oleh sesuatu yang tak dikenal. Simon menjadi tersangka. Ia mengajukan pembelaan karena gangguan jiwa, tapi justru memperburuk nasibnya. Dia dikirim ke rumah sakit jiwa, menjalani terapi kejut yang menghancurkan ingatannya. Simon merasa terperangkap dalam labirin, merindukan kekasihnya. Saat akhirnya bebas, ia lupa bahwa kekasihnya telah tiada. Ia kembali ke laut, mendengar suara sirene yang dikiranya suara sang pujaan hati, lalu menabrak dan tenggelam.

Setiap lagu dalam album ini adalah potongan emosi, konflik, dan transformasi yang dialami Simon. Seperti kata Byron Almén dalam A Theory of Musical Narrative, musik bisa membangun narasi melalui konflik dan perubahan. Itulah yang dilakukan “Hawaii: Part II”.

“Dream Sweet in Sea Major” terasa teatrikal dan sendu.

“The Mind Electric” terdengar eksperimental, kacau, dan gelap.

Perbedaan genre yang ekstrem ini justru menggambarkan kekacauan mental Simon. Bukan kebetulan, melainkan rancangan artistik yang matang.

Karya Tersembunyi yang Hanya Diketahui Segelintir Orang

Sayangnya, keunikan ini menjadi pisau bermata dua. Sebagian besar pendengar awam merasa “Hawaii: Part II” terlalu aneh, terlalu eksperimental, terlalu berani. Akibatnya, album ini tidak pernah mencapai puncak tangga lagu. Ia seperti harta karun yang terkubur di dasar samudra musik dunia.

Namun justru di situlah keindahannya. Seperti yang dikatakan Hinders (2020):

“Saya percaya album ini disusun seperti sebuah musikal yang ceritanya sebenarnya tidak diketahui siapa pun.”

Meskipun banyak yang telah mencoba menafsirkan kisah Simon, Miracle Musical sendiri belum pernah mengonfirmasi satu pun teori. Album ini masih menyimpan segudang misteri: kode tersembunyi, lirik yang membingungkan, dan versi-versi awal lagu yang dikumpulkan dalam album tidak resmi bernama “Hawaii: Part II Pt. II”.

Sebuah Mahakarya yang Pantas Didengar

“Hawaii: Part II” bukan album untuk semua orang. Tapi jika Anda lelah dengan lagu-lagu yang itu-itu saja, jika Anda mencari pengalaman mendengarkan yang terasa seperti perjalanan tanpa arah, mimpi yang pecah, dan teka-teki yang tak pernah selesai—maka album ini adalah permata tersembunyi yang layak Anda gali.

Karena di tengah miliaran lagu di dunia, hanya sedikit yang berani berkata:

“Saya tidak ingin mudah dimengerti. Saya ingin dikenang sebagai misteri.”

 

Hawaii: Part II – tersembunyi, unik, dan abadi.

Exit mobile version