Sudirman Said: Konflik Kepentingan Jadi Akar Masalah Lemahnya Ketahanan Energi Nasional

Tajuk.co, JAKARTA — Harga minyak boleh naik turun, selat Hormuz bisa ditutup lalu dibuka lagi. Tetapi menurut Menteri ESDM 2014-2016 Sudirman Said ada tiga masalah yang tidak pernah berubah di balik rapuhnya ketahanan energi Indonesia.

“Tekanan pada energy security kita terus terjadi karena tiga aspek fundamental. Pertama, pola pikir jangka pendek alias short-termism. Kedua, politik dan kebijakan populis yang terlalu dominan. Ketiga, praktik conflict of interest antara pengambil kebijakan dan pelaku usaha.” terang Sudirman Said dalam diskusi di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Jakarta Selatan, Rabu (30/4/2026).

Rektor Universitas Harkat Negeri itu menegaskan bahwa ketiga masalah itu telah menciptakan kegagalan sistemik yang berulang dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya.

“Akibat dari tiga hal di atas, kita selalu gagal dalam mengelola urusan yang fundamental dan berdimensi jangka panjang. Eksplorasi migas, transisi energi, tata kelola pasokan minyak. Semuanya mangkrak,” katanya.

Pernyataan itu disampaikan di tengah krisis pasokan minyak global akibat konflik Timur Tengah yang oleh Badan Energi Internasional (IEA) disebut sebagai gangguan terbesar sepanjang sejarah pasar energi. Namun bagi Sudirman, krisis eksternal hanya memperlihatkan kelemahan yang sudah lama ada.

Indonesia mengonsumsi 1,6 juta barel BBM per hari, tetapi hanya mampu memproduksi 600-610 ribu barel. Separuh kebutuhan nasional bergantung pada impor. Untuk membiayainya, negara harus membelanjakan valuta asing minimal 100 juta dollar AS setiap hari. Pada 29 April 2026, tekanan itu mendorong rupiah ke rekor terendah sepanjang masa: Rp 17.326 per dolar AS.
Sudirman menilai semua itu bisa diantisipasi jika tata kelola energi nasional tidak digerogoti oleh kepentingan jangka pendek. Ia mencontohkan bagaimana wacana transisi energi di Indonesia selalu mengikuti siklus harga minyak, bukan visi strategis.

“Riuh-rendah transisi energi hanya ada dalam suasana harga minyak ekstrem tinggi. Begitu keadaan normal, kita lupa dan kembali pada business as usual,” ujarnya.

Pola itu, menurut Sudirman, adalah bukti paling nyata dari dominasi pola pikir jangka pendek dalam pengambilan kebijakan energi. Selama produksi tidak meningkat dan transisi energi hanya menjadi slogan musiman, Indonesia akan terus terperangkap dalam jebakan yang sama.

“Pertanyaan yang harus kita jawab bukan bagaimana bertahan melewati krisis ini. Pertanyaannya: mengapa kita selalu tidak siap ketika krisis datang?”, pungkas Sudirman.

Exit mobile version