Tajuk.co, YOGYAKARTA – Kebiasaan masyarakat dunia mengonsumsi kopi terus meningkat. Di balik tren itu, timbul persoalan baru berupa menumpuknya limbah ampas kopi atau spent coffee ground (SCG) yang berpotensi mencemari lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mencoba mengubah persoalan tersebut menjadi peluang ekonomi melalui riset pengolahan limbah kopi menjadi minyak bernilai tinggi.
Produksi kopi dunia pada periode 2025–2026 diperkirakan mencapai 10,73 juta ton, sementara tingkat konsumsinya menyentuh 10,43 juta ton. Tingginya konsumsi tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya limbah ampas kopi yang selama ini banyak berakhir di tempat pembuangan sampah.
Limbah kopi diketahui dapat memicu peningkatan emisi gas metana dan karbon dioksida, meningkatkan keasaman air tanah, hingga meninggalkan residu tanin dan senyawa fenolik yang menghambat pertumbuhan tanaman.
Periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Fawzan Sigma Aurum, mengembangkan penelitian untuk memanfaatkan ampas kopi menjadi minyak berkualitas tinggi yang memiliki potensi ekonomi.
Menurut Fawzan, limbah kopi sejatinya masih menyimpan berbagai senyawa bioaktif yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. “Riset ini dilakukan melalui pendekatan foodomics modern yang menggabungkan teknologi ekstraksi hijau dengan analisis metabolomik dan lipidomik canggih,” kata Fawzan.
Penelitian tersebut mengombinasikan teknik ekstraksi ramah lingkungan dengan pendekatan foodomics profiling untuk menghasilkan sekaligus mengkarakterisasi minyak dari limbah kopi secara berkelanjutan.
Dalam proses analisis, tim peneliti menggunakan instrumen LC-MS-QTOF dan LC-MS/MS untuk mengidentifikasi kandungan metabolit serta profil lipid penting di dalam minyak hasil ekstraksi.
Hasil penelitian menunjukkan metode ultrasound-assisted extraction (UAE) berbasis etanol menjadi teknik paling efektif. Metode ini menghasilkan rendemen tinggi dengan kualitas senyawa bioaktif terbaik, kandungan lipid potensial yang tinggi, serta tingkat oksidasi lipid yang rendah.
Selain UAE, metode supercritical CO₂ dengan tambahan pelarut etanol juga dinilai efektif menjaga kualitas senyawa bioaktif. Adapun metode Soxhlet—teknik dasar ekstraksi minyak dan lemak—memang menghasilkan rendemen paling besar, tetapi memicu oksidasi lipid lebih tinggi akibat proses pemanasan yang berlangsung lama.
Penelitian BRIN juga menemukan sejumlah senyawa penting seperti caffeoylquinic acids (CQAs), caffeic acid, feruloylquinic acid, dan glutamic acid memiliki korelasi positif terhadap keberadaan lipid non-oksidatif dan senyawa bioaktif lain dalam ekstrak UAE maupun supercritical CO₂.
Fawzan berharap riset ini dapat membuka jalan bagi pemanfaatan limbah kopi sebagai bahan baku industri pangan, nutraceutical, bahan tambahan pangan, hingga kosmetik berkelanjutan di Indonesia. Ia juga menilai penelitian tersebut berpotensi memperluas kolaborasi di bidang kimia pangan analitik dan pengembangan pangan inovatif.
