Tajuk.co, JAKARTA — Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan seluruh warga negara Israel yang terdeteksi berada di wilayah Malaysia akan dideportasi. Penegasan tersebut disampaikan menyusul dugaan adanya warga Israel yang memasuki Malaysia menggunakan kewarganegaraan atau paspor negara lain.
Anwar mengatakan Malaysia tetap berpegang pada kebijakan yang tidak mengakui Israel sehingga tidak akan memberikan toleransi apabila ditemukan warga negara Israel berada di negaranya.
Menurut Anwar, pemerintah melalui lembaga terkait masih melakukan penyelidikan untuk memastikan dugaan tersebut, termasuk laporan mengenai keberadaan warga Israel di negara bagian Johor.
Kasus ini mencuat setelah sejumlah warga Malaysia mengunggah dugaan adanya komunitas yang disebut sebagai “Kampung Israel” di kawasan Forest City, Johor. Informasi tersebut kemudian menjadi perhatian publik dan mendorong aparat melakukan pemeriksaan di lokasi.
Tim gabungan dari Departemen Imigrasi Malaysia bersama instansi terkait kemudian melakukan inspeksi lapangan dengan memeriksa ratusan warga negara asing beserta dokumen perjalanan mereka.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan sebanyak 266 warga asing dari 40 negara memiliki dokumen perjalanan yang sah. Meski demikian, aparat masih melanjutkan penyelidikan untuk memastikan identitas, kewarganegaraan, serta aktivitas para penghuni di kawasan tersebut.
Pakar geostrategi dari Nusantara Academy of Strategic Research (NASR), Profesor Dr. Azmi Hassan, menjelaskan bahwa warga negara Israel yang memiliki kewarganegaraan ganda umumnya menggunakan paspor negara lain ketika memasuki Malaysia. Kondisi tersebut membuat pemeriksaan tidak cukup hanya berdasarkan paspor yang digunakan saat melintas di perbatasan.
Karena itu, otoritas Malaysia juga menelusuri kecocokan identitas, dokumen izin tinggal, aktivitas usaha, akomodasi, hingga penggunaan lahan untuk menemukan kemungkinan adanya identitas yang disamarkan.
Penyelidikan turut mengarah pada Network School, sebuah komunitas hunian bagi pendiri perusahaan rintisan (startup), pekerja jarak jauh (remote worker), dan kreator konten yang beroperasi di kawasan Forest City. Komunitas tersebut menjadi sorotan setelah video promosinya ramai diperbincangkan di media sosial.
Pemerintah Negara Bagian Johor menyatakan telah menerima berbagai laporan dan kekhawatiran masyarakat mengenai aktivitas komunitas tersebut. Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung dan otoritas Malaysia belum mengumumkan adanya temuan resmi terkait keberadaan warga negara Israel di lokasi tersebut.












