Tajuk.co CHICAGO – Lebih dari 450.000 orang diperkirakan akan meninggal akibat lonjakan suhu panas yang dibawa oleh super El Niño dalam enam bulan ke depan. Para ilmuwan iklim menyampaikan perkiraan itu karena suhu tinggi akibat El Nino dapat menyebabkan bencana kebakaran hutan, banjir bandang seperti di Nepal, dan juga kekeringan ekstrim.
“Estimasi 451.000 jiwa adalah angka yang sangat besar hingga bisa membuat kita kelu, tetapi angka tersebut terdiri dari para orang tua dan anak-anak, kakek-nenek, dan tetangga, orang-orang yang berangkat kerja, merawat keluarga, dan menjalani hidup mereka,” ujar Prof. Michael Greenstone, pendiri Climate Impact Lab dari University of Chicago yang juga salah satu penulis laporan tersebut.
Estimasi kematian ini berlaku untuk periode September hingga Februari 2027, yang merupakan batas akhir dari prakiraan suhu saat ini. Namun, tingginya angka kematian akibat suhu panas diperkirakan akan terus berlanjut hingga Juni atau Juli 2027.
Jumlah korban tersebut menambah angka kematian dini akibat suhu tinggi yang sebelumnya sudah terdorong oleh krisis iklim.
Dampak ini akan melanda seluruh bola dunia, mulai dari Indonesia hingga India, dan Nigeria hingga Amerika Serikat. Banyak kematian tambahan juga diperkirakan terjadi akibat kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir yang dibawa oleh El Niño.

Negara-negara yang paling terdampak dalam enam bulan ke depan adalah negara-negara tropis seperti Nigeria, Indonesia, Sudan, India, dan Brasil.
AS masuk dalam daftar 20 negara paling terdampak, dengan proyeksi 3.500 kematian tambahan akibat suhu panas. Secara lebih luas, wilayah Sahel di Afrika dan Asia Tenggara mengalami dampak yang sangat parah.
Kematian akibat suhu panas ini telah diestimasi pada tingkat regional, dan para peneliti menyatakan bahwa proyeksi tersebut berhasil mengidentifikasi lokasi di mana langkah-langkah perlindungan dapat diterapkan untuk menyelamatkan nyawa.
Tindakan tersebut meliputi prakiraan cuaca panas yang lebih akurat, penyediaan pusat pendinginan tempat warga berlindung, penambahan tenaga medis pada jam-jam tersengat panas, serta perlindungan bagi pekerja di luar ruangan.
El Niño yang saat ini memanaskan bumi telah menembus rekor suhu tertinggi yang pernah tercatat untuk fenomena ini pada hari Senin, beberapa bulan sebelum puncak yang diperkirakan. Gelombang panas ini jauh lebih dahsyat dibandingkan peristiwa sebelumnya hingga para ilmuwan menyebutnya “mencengangkan” dan “sekelas Godzilla”.
El Niño merupakan peristiwa iklim alami, namun dampaknya dapat memburuk akibat pemanasan global.
Para peneliti menyebut El Niño ini juga merupakan “kartu pos dari masa depan kita”, yang mendorong suhu naik ke tingkatan yang diproyeksikan baru akan dicapai oleh krisis iklim dalam 20 tahun mendatang.
“Meningkatkan tanggap darurat dan mengarahkan upaya kita dengan lebih tepat sasaran dapat menyelamatkan banyak nyawa tahun ini,” kata Dr. Tamma Carleton dari University of California, Berkeley, yang turut menulis laporan tersebut.
“Namun 20 tahun dari sekarang, ketika suhu ekstrem hari ini menjadi norma baru, kita tidak ingin berada dalam kondisi darurat yang berkepanjangan. Kita harus bergerak dari sekarang untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi sarana yang akan menyelamatkan nyawa di tahun-tahun mendatang.”












