Tajuk.co PARIAMAN — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelar Gladi Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami tingkat provinsi selama dua hari, 29–30 September 2026, di Kota Pariaman. Kegiatan ini menjadi momentum untuk menguji kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi serta tsunami yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Gladi kesiapsiagaan yang mengusung tema “Mewujudkan Sumbar Tangguh Tsunami melalui Sinergi Pentahelix dan Kesiapsiagaan Masyarakat” tersebut dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, di Aula Kantor Wali Kota Pariaman, Selasa (29/9/2026).
Gladi digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat sekaligus mengenang bencana gempa bumi Sumbar 2009. Rangkaian kegiatan meliputi pemaparan Rencana Kontinjensi (Renkon) Tsunami, Tabletop Exercise (TTX), Command Post Exercise (CPX), serta Field Training Exercise (FTX).
Saat membuka kegiatan, Sekdaprov Sumbar Arry Yuswandi menegaskan bahwa tingginya potensi ancaman bencana di Sumatera Barat harus diimbangi dengan budaya kesiapsiagaan yang dibangun secara terus-menerus.
“Gempa bumi dan tsunami hanyalah dua dari sekian banyak potensi ancaman bencana yang ada di daerah kita. Bencana memang tidak dapat kita cegah, namun yang bisa dan harus kita lakukan adalah mengurangi dampaknya. Semua itu hanya dapat diwujudkan melalui kesiapsiagaan yang berkelanjutan,” ujar Arry.
Menurutnya, gladi tersebut tidak semata-mata untuk menjalankan skenario latihan, tetapi juga menjadi sarana untuk menguji sejauh mana sistem penanggulangan bencana di Sumatera Barat benar-benar siap diterapkan ketika bencana terjadi.
“Gladi ini merupakan bentuk pengujian komprehensif. Dengan adanya gladi ini, bisa kita temukan apa saja titik lemah kita. Kita harus berani menemukan apa saja keterlambatan kita. Dengan adanya temuan kelemahan itu, barulah bisa kita lakukan perbaikan-perbaikan,” tegasnya.
Fokus utama gladi kali ini adalah menguji dan memvalidasi Dokumen Rencana Kontinjensi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Provinsi Sumatera Barat. Dokumen tersebut diuji untuk memastikan prosedur, alur komando, koordinasi, hingga mekanisme operasional dapat berjalan efektif dalam situasi darurat.
Salah satu aspek yang diuji adalah sistem peringatan dini dan diseminasi informasi. Skenario latihan mencakup alur penyampaian peringatan tsunami dari BMKG yang diterima Pusdalops PB provinsi dan Kota Pariaman, kemudian diteruskan kepada masyarakat melalui sirene, pengeras suara, serta saluran komunikasi darurat.
Gladi juga menguji mekanisme komando dan koordinasi lintas sektor, termasuk hubungan antara Pemprov Sumbar, Pemko Pariaman, TNI/Polri, serta instansi vertikal dalam menjalankan fungsi pos komando tanggap darurat.
Aspek lainnya adalah evakuasi mandiri masyarakat pesisir, termasuk pengujian jalur menuju Tempat Evakuasi Sementara (TES) dan Tempat Evakuasi Akhir (TEA). Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Selain itu, dilakukan pengujian terhadap operasi pencarian dan pertolongan, triase medis darurat, komunikasi cadangan, manajemen logistik, pendirian dapur umum, hingga pengorganisasian tenda pengungsian.
Seluruh temuan, kendala teknis, serta kelemahan yang muncul selama gladi akan menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan Rencana Kontinjensi Sumatera Barat.
Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, mengatakan posisi Sumatera Barat di kawasan Ring of Fire membuat kesiapsiagaan menghadapi gempa dan tsunami menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
“Kita berada di kawasan Ring of Fire yang memiliki potensi risiko gempa dan tsunami akibat aktivitas zona megathrust. Kita tidak pernah tahu kapan bencana itu akan datang, namun satu hal yang pasti, bencana tidak dapat kita hindari. Tetapi korban jiwa dan dampaknya bisa kita minimalisir melalui mitigasi dan kesiapsiagaan yang matang,” ujar Mulyadi.
Ia menegaskan, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan memahami potensi risiko. Menurutnya, masyarakat dan seluruh unsur terkait harus memiliki kemampuan untuk mengambil tindakan secara cepat ketika keadaan darurat terjadi.
“Kesiapsiagaan bukanlah sekadar mengetahui risiko. Kesiapsiagaan adalah tentang tindakan nyata, latihan yang konsisten, dan penguatan kapasitas respons secara kolektif,” katanya.
Mulyadi menyebut Pemerintah Kota Pariaman menyambut baik pelaksanaan gladi tersebut. Menurutnya, simulasi menjadi kesempatan untuk menguji kesiapan personel, sistem, prosedur, dan koordinasi antarlembaga agar tidak terjadi kegagalan ketika bencana yang sebenarnya datang.
“Melalui simulasi dan pelatihan yang kita laksanakan hari ini, kita sedang melatih diri kita, sistem kita, dan koordinasi antarinstansi agar tidak terjadi kegagalan saat situasi darurat,” ujarnya.
Ia juga meminta seluruh jajaran terkait memperkuat edukasi kebencanaan kepada masyarakat secara masif dan berkelanjutan, termasuk di sekolah, rumah ibadah, lingkungan permukiman, dan berbagai ruang publik.
Gladi kesiapsiagaan ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama. Tabletop Exercise (TTX) digunakan untuk menguji skenario, prosedur, dan proses pengambilan keputusan. Selanjutnya, Command Post Exercise (CPX) menguji sistem komando, koordinasi, komunikasi, serta pengelolaan posko dalam kondisi darurat.
Tahap terakhir adalah Field Training Exercise (FTX) yang menguji pelaksanaan respons secara langsung di lapangan, termasuk evakuasi masyarakat, mobilisasi personel, komunikasi darurat, logistik, serta penanganan korban.
Pada Rabu (30/9/2026), pelaksanaan FTX dipusatkan di Lapangan Parkir Josal Football Academy Cubadak Aia Utara Kota Pariaman, mulai pukul 06.30 WIB hingga selesai.
Kegiatan ini melibatkan sedikitnya 1.200 peserta dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, Basarnas, PMI, instansi teknis, organisasi kemanusiaan dan relawan, dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat dan pelajar.
Dengan melibatkan unsur pemerintah, TNI/Polri, dunia usaha, akademisi, relawan, organisasi kemanusiaan, media, serta masyarakat, gladi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Hasil pengujian di lapangan akan menjadi dasar memperkuat sistem kesiapsiagaan dan membangun budaya sadar bencana di Sumatera Barat.
Pesan utama yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut adalah bahwa keselamatan saat bencana tidak hanya bergantung pada kemampuan pemerintah, tetapi juga pada kesiapan setiap individu dan kekuatan kolaborasi seluruh unsur masyarakat.












