Atap Jebol dan Tikus Berkeliaran, Kondisi Sekolah Prancis Picu Demo Besar

Tajuk.co, PARIS — Kondisi sejumlah sekolah di Prancis menjadi salah satu pemicu gelombang demonstrasi yang melibatkan pelajar, guru, orang tua, mahasiswa, hingga aktivis. Sejumlah siswa mengeluhkan fasilitas pendidikan yang dinilai memprihatinkan.

Salah satu kondisi terburuk dilaporkan terjadi di sebuah sekolah menengah atas di Saint-Denis, wilayah pinggiran Paris. Seorang demonstran menyebut bangunan sekolah tersebut mengalami kerusakan pada bagian langit-langit, kebocoran air, hingga masalah tikus.

Rekaman yang dibuat siswa dan guru memperlihatkan tikus berkeliaran di lingkungan sekolah. Dalam video lainnya, air terlihat menetes dari bagian bangunan dan ditampung menggunakan ember.

Masalah fasilitas tidak hanya berkaitan dengan kerusakan bangunan. Sejumlah sekolah juga disebut tidak memiliki pendingin ruangan yang memadai ketika Prancis menghadapi cuaca panas ekstrem.

Siswa Rosa Parks High School di Saint-Denis, Issam Makhloufi (15), mengungkapkan kondisi ruang kelas yang minim ventilasi. Menurut dia, jendela di ruang kelas pun sulit dibuka sehingga sirkulasi udara menjadi persoalan.

Selain fasilitas, siswa turut menyoroti kondisi ruang belajar yang terlalu padat serta beban jadwal pelajaran yang berat. Kekurangan tenaga pengajar dan staf sekolah juga disebut membuat proses pembelajaran tidak berjalan maksimal.

Persoalan tersebut banyak ditemukan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran kota. Sebagian bangunan pendidikan di kawasan tersebut merupakan gedung lama yang dibangun sejak dekade 1950-an hingga 1970-an.

Pengelolaan sekolah di Prancis berada di bawah pemerintah daerah. Sejumlah pemimpin daerah menyatakan membutuhkan dukungan pemerintah pusat untuk melakukan renovasi dan memperbaiki fasilitas pendidikan.

Pemimpin serikat guru yang ikut dalam aksi demonstrasi, Sophie Vénétitay, menilai kondisi sistem pendidikan publik Prancis sedang menghadapi banyak persoalan.

Sementara itu, gelombang demonstrasi yang berlangsung sejak akhir September 2026 melibatkan sekitar 250.000 orang dari berbagai kelompok. Aksi tersebut tidak hanya diikuti pelajar, tetapi juga guru, orang tua, mahasiswa, dan aktivis.

Respons aparat terhadap aksi pelajar kemudian memicu sorotan lebih luas. Sejumlah orang tua dan aktivis ikut turun ke jalan setelah muncul laporan mengenai tindakan represif aparat dalam menangani demonstrasi.

Beberapa aksi bahkan berakhir ricuh. Sejumlah sekolah terpaksa ditutup dan kegiatan belajar dialihkan secara daring akibat situasi keamanan.

Gelombang protes tersebut berlangsung ketika Prancis juga menghadapi tekanan ekonomi dan fiskal. Biaya pinjaman pemerintah meningkat dalam beberapa bulan terakhir di tengah kekhawatiran investor terhadap kemampuan negara mengendalikan beban utang.

Kondisi tersebut berkaitan dengan besarnya pengeluaran pemerintah, termasuk untuk program kesejahteraan sosial dan pembiayaan pensiun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *