Tajuk.co, JAKARTA – Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengonfirmasi hampir 100 personel militernya mengalami luka-luka sejak operasi militer terhadap Iran kembali meningkat pada 7 Juli 2026.
Juru bicara Pentagon menyebut sebagian besar korban mengalami cedera ringan berupa gegar otak (minor concussion). Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat sebelumnya tidak langsung mengumumkan jumlah korban dengan alasan keamanan personel yang masih bertugas di kawasan konflik.
Laporan media internasional menyebut penundaan penyampaian data korban dilakukan untuk menghindari risiko terhadap operasi militer yang masih berlangsung.
Selain korban luka terbaru tersebut, data yang dirilis menunjukkan total korban sejak eskalasi konflik dimulai pada 28 Februari 2026 mencapai 17 personel militer tewas dan sekitar 420 lainnya mengalami luka-luka dalam berbagai insiden.
Sementara itu, satu personel militer AS masih dinyatakan hilang setelah serangan balasan Iran menghantam kompleks asrama di pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania pada akhir pekan lalu.
Serangan tersebut juga menyebabkan sedikitnya dua prajurit Amerika dilaporkan tewas. Insiden itu semakin meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran yang dalam beberapa pekan terakhir terus saling melancarkan serangan.
Seorang pejabat Gedung Putih menyampaikan upacara pemulangan sekaligus penghormatan bagi personel militer yang gugur dijadwalkan berlangsung pada Rabu (22/7/2026).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya disebut akan menghadiri prosesi tersebut. Ia juga kembali menegaskan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat atas serangan yang menewaskan personel militer Amerika.
Konflik yang terus meningkat antara kedua negara memunculkan kekhawatiran internasional terhadap potensi meluasnya perang di kawasan Timur Tengah, terutama setelah serangkaian serangan balasan yang melibatkan berbagai pangkalan militer dan aset strategis di wilayah tersebut.












