Presiden La Liga Spanyol Minta Presiden FIFA Mundur

Buntut Penyelenggaraan Piala Dunia 2026

Presiden La Liga Spanyol, Javier Tebas. Foto: gettyimages

Tajuk.co MIAMI – Presiden La Liga, Javier Tebas, mendesak Presiden FIFA Gianni Infantino mengundurkan diri. Tebas menganggap, badan pengatur sepak bola dunia di bawah Infantino telah menghancurkan industri sepak bola”

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Italia, La Gazzetta dello Sport, pimpinan liga Spanyol itu juga mengkritik jeda hidrasi di Piala Dunia, durasi babak pertama (jeda antar-babak) yang sangat panjang pada laga final, penundaan sanksi bagi penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun, serta wacana potensi turnamen musim panas dengan 64 tim di masa depan.

Ketika ditanya apakah Infantino harus mundur, Tebas mengatakan: “Menurut pendapat saya, ya, saya pikir waktunya sudah habis.”

Namun, Tebas menyatakan pria berusia 56 tahun tersebut masih mendapat dukungan dari federasi-federasi nasional, dan mengklaim sistem pemilihan FIFA busuk hingga ke akarnya.

“Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang ingin maju hanya untuk kalah. Dia seharusnya tidak bertahan, tetapi kondisi saat ini membuat dia tidak akan pergi,”  kata Tebas.

Pimpinan kasta tertinggi sepak bola Spanyol itu berada di AS untuk menyaksikan negaranya menjuarai Piala Dunia 2026.

“Beberapa hari terakhir ini di AS, saya mendengar banyak orang yang menentang Infantino, yang tidak setuju dengan apa yang dilakukannya,” ujar Tebas.

“Merekam engatakannya, tetapi kemudian tidak melakukan apa-apa. Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, bungkam atau terlibat (komplisitas), karena mereka yang tetap diam sadar betul akan kerusakan yang dialami sepak bola.”

Infantino diperkirakan akan terpilih kembali untuk masa jabatan keempat pada kongres FIFA bulan Maret 2027 mendatang, meskipun Tebas percaya Infantino bisa saja lengser akibat keterlibatannya dalam kasus Balogun.

Pemain AS berusia 25 tahun itu lolos dari hukuman larangan bertanding untuk laga babak 16 besar timnya melawan Belgia setelah adanya intervensi dari Presiden AS Donald Trump.

“Penangguhan sanksi pemain Amerika itu sangat serius. Mereka beruntung Belgia mengeliminasi AS, karena jika tidak, bisa muncul kasus yang mungkin membuat Infantino kehilangan jabatannya,” kata Tebas.

“Karena Belgia menang, mereka berhasil mengubur masalah tersebut. Namun hal-hal ini hanyalah puncak dari gunung es.”

Badan pengatur sepak bola Eropa, UEFA, mengkritik keputusan FIFA pada saat itu, menyebutnya “belum pernah terjadi sebelumnya, tidak masuk akal, dan tidak dapat dibenarkan”, dan keputusan tersebut menjadi salah satu alasan presiden organisasi tersebut, Aleksander Ceferin, tidak menghadiri laga final Piala Dunia.

Infantino membuka peluang untuk turnamen global dengan 64 tim saat ajang tahun ini berlangsung, tetapi Tebas berargumen bahwa “tidak semuanya bisa berputar di sekitar Piala Dunia”.

“Menambah jumlah tim nasional tidak masuk akal. Industri sepak bola bukan cuma Piala Dunia,” kata Tebas.

“Kompetisi nasional-lah yang menopang olahraga ini. Mereka menghancurkan industri sepak bola, yang menciptakan puluhan ribu lapangan kerja, demi ajang yang berlangsung selama 40 hari dan hanya melibatkan sebagian kecil pemain.

“Apakah pemain-pemain terbaik ada di sana? Jelas, tetapi mereka juga ada di liga-liga kami. Kita membutuhkan lebih sedikit pertandingan internasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional di semua level. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang mengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab.”

FIFA memberlakukan jeda hidrasi wajib selama tiga menit untuk Piala Dunia, tanpa memandang kondisi cuaca, di semua pertandingan yang dimainkan di stadion-stadion Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Badan pengatur tersebut menyatakan jeda itu diberlakukan sebagai komitmen terhadap kesejahteraan pemain, tetapi para kritikus menyoroti bahwa stasiun TV pemegang hak siar memanfaatkannya sebagai celah untuk meraup keuntungan dari iklan.

Sementara itu, raksasa musik pop seperti Madonna, BTS, Shakira, dan Justin Bieber termasuk di antara pengisi acara yang tampil dalam pertunjukan jeda babak final Piala Dunia, yang memperpanjang waktu istirahat yang biasanya 15 menit menjadi 27 menit 22 detik.

“FIFA mengatur berbagai hal sesuka hatinya, untuk apa yang diinginkannya, demi kepentingannya sendiri, tentu bukan demi sepak bola,” tutur Tebas. “Jadi, jika mereka butuh jeda babak 27 menit, mereka akan mengadakannya.

“Jeda hidrasi itu bohong. Kami memilikinya di La Liga, tetapi hanya ketika cuaca benar-benar panas.

“Di sini, lapangan di Dallas, Los Angeles, dan Atlanta dilengkapi AC; saya bahkan harus memakai sweater di tribun penonton. Itu bohong, itu jeda untuk iklan.

“Ini adalah bukti bahwa kita diatur oleh lembaga yang melakukan dan memutuskan apa yang diinginkannya, kapan saja diinginkannya, hanya menuruti kepentingannya sendiri tanpa mempertimbangkan sisa ekosistem sepak bola. Dan dalam banyak kasus, tindakan itu merugikan sepak bola.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *