Tajuk.co, JAKARTA — Semakin banyak generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), memilih bekerja di sektor informal atau gig economy di tengah terbatasnya peluang kerja formal. Meski menawarkan fleksibilitas dan kesempatan memperoleh penghasilan lebih cepat, tren ini dinilai menyimpan berbagai risiko bagi perekonomian nasional dalam jangka panjang.
Pekerjaan seperti pengemudi ojek daring, kurir, pekerja lepas (freelancer), hingga kreator konten kini menjadi pilihan utama sebagian anak muda. Fenomena tersebut dinilai mencerminkan perubahan pola pasar kerja sekaligus menunjukkan belum optimalnya penyerapan tenaga kerja di sektor formal.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menilai meningkatnya minat Gen Z terhadap sektor informal bukan semata-mata karena preferensi pribadi. Menurutnya, kondisi tersebut juga dipengaruhi keterbatasan kesempatan kerja formal yang tersedia.
Ia menyebut sektor gig economy berfungsi sebagai “katup pengaman” ketika lapangan kerja formal belum mampu menyerap angkatan kerja baru dalam jumlah besar.
Meski demikian, Ronny mengingatkan bahwa dominasi pekerjaan informal berpotensi menimbulkan persoalan serius. Salah satunya adalah terjebaknya Indonesia dalam kondisi low productivity trap, yakni ketika jumlah tenaga kerja terus bertambah, tetapi tidak diikuti peningkatan produktivitas dan kualitas output ekonomi.
Menurutnya, sebagian besar pekerjaan di sektor informal memiliki nilai tambah yang relatif rendah serta terbatas dalam pengembangan kompetensi pekerja. Kondisi tersebut dapat berdampak pada rendahnya produktivitas nasional dalam jangka panjang.
Selain itu, pendapatan pekerja informal yang cenderung tidak menentu juga berpotensi melemahkan daya beli masyarakat. Padahal, konsumsi rumah tangga selama ini menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ronny juga menyoroti minimnya perlindungan sosial bagi pekerja di sektor informal. Banyak pekerja yang belum memiliki akses terhadap jaminan sosial maupun perlindungan ketenagakerjaan sebagaimana pekerja formal.
Apabila tren tersebut terus berlangsung tanpa kebijakan yang tepat, ia memperingatkan Indonesia dapat menghadapi generasi pekerja yang jumlahnya besar, tetapi memiliki tingkat ketahanan ekonomi yang rendah. Selain berdampak pada kesejahteraan pekerja, kondisi tersebut juga berisiko mengurangi basis penerimaan pajak negara dan meningkatkan kerentanan sosial di masa mendatang.












