Tajuk.co, LIMA — Pemerintah Peru resmi mengakhiri hubungan diplomatik dengan Iran di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Amerika Serikat.
Keputusan tersebut diumumkan Kementerian Luar Negeri Peru pada Selasa (1/9). Pemerintahan Presiden Keiko Fujimori menyebut langkah itu sebagai bagian dari komitmen Peru terhadap perdamaian, penghormatan terhadap hukum internasional, serta perlindungan terhadap prinsip-prinsip demokrasi.
Dalam pernyataannya, Lima turut menyoroti kondisi demokrasi di Iran. Peru menilai terdapat sejumlah persoalan, mulai dari pembatasan kebebasan pers, penindasan terhadap aksi demonstrasi damai, diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan, hingga tindakan terhadap kelompok oposisi politik.
Pemerintah Peru juga mengkhawatirkan dampak konflik terhadap perdagangan internasional. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sejak Maret dinilai berpotensi memengaruhi harga energi sekaligus mengganggu rantai pasokan global.
Selain persoalan tersebut, Peru menuding Iran turut berkontribusi terhadap meningkatnya kekerasan dan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Lima juga menyatakan keberatan terhadap tindakan yang dinilai menghambat aktivitas Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Meski hubungan diplomatik dihentikan, Peru memastikan layanan konsuler antara kedua negara tetap berjalan. Kebijakan tersebut ditujukan untuk melindungi kepentingan serta warga negara Peru dan Iran sesuai ketentuan Konvensi Wina.
Keputusan pemutusan hubungan diplomatik itu telah disampaikan kepada pemerintah Iran melalui nota diplomatik. Penyampaian dilakukan melalui Kedutaan Besar Peru di Ekuador yang juga menjalankan fungsi perwakilan Peru untuk Iran.
Langkah Lima tersebut juga tidak terlepas dari arah kebijakan luar negeri pemerintahan Keiko Fujimori. Presiden baru Peru itu dikenal memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat dan sejak awal pemerintahannya menyatakan keinginan memperkuat kerja sama dengan Washington.
Menteri Luar Negeri Peru Carlos Espa sebelumnya menyebut Amerika Serikat sebagai mitra strategis. Fujimori juga telah memberi sinyal bahwa pemerintahannya akan membuka ruang besar bagi peningkatan kolaborasi dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Hubungan Peru-AS dinilai memiliki kepentingan strategis. Peru merupakan salah satu produsen tembaga utama dunia, komoditas yang memiliki nilai penting bagi kepentingan ekonomi dan industri Amerika Serikat.












