Tajuk.co, SUBANG — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan metode Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) diterapkan pada sedikitnya 1 juta hektare lahan pertanian secara nasional pada 2027.
Menurut Amran, penerapan teknologi tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani hingga sekitar Rp35 juta per hektare.
Perluasan PM-AAS akan didukung dengan subsidi benih untuk mendorong petani mencoba metode tersebut. Anggaran untuk penerapan pada lahan minimal 1 juta hektare disiapkan mulai tahun depan, meski pelaksanaannya disebut sudah mulai berjalan.
“Caranya adalah untuk tahun pertama insyaallah tahun depan kita subsidi benih. Supaya menarik, subsidi benih target 1 juta hektare,” kata Amran di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Sukamandi, Subang, Rabu (2/9).
Amran menjelaskan peningkatan produktivitas menjadi salah satu keunggulan utama PM-AAS. Berdasarkan uji coba selama sekitar dua tahun, produktivitas padi yang sebelumnya berada di kisaran 5-5,5 ton per hektare disebut dapat meningkat menjadi sekitar 11-13 ton per hektare.
Metode tersebut kini telah diterapkan di sekitar 10 hingga 11 provinsi. Peningkatan produksi salah satunya dilakukan dengan memperbesar populasi tanaman dalam satu hektare.
Dalam pola tanam sebelumnya, jumlah tanaman berada di kisaran 360 ribu rumpun per hektare. Melalui pola tanam yang lebih rapat, jumlah tersebut dapat ditingkatkan menjadi sekitar 800 ribu hingga 1 juta rumpun.
Amran mengatakan penerapan PM-AAS pada 1 juta hektare dengan tambahan produktivitas sekitar 5 ton per hektare berpotensi menghasilkan tambahan 5 juta ton gabah. Jika diterapkan pada 2 juta hektare, tambahan produksinya secara hitungan bisa mencapai 10 juta ton.
Dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram, produksi 10 juta ton tersebut memiliki nilai sekitar Rp65 triliun. Namun, angka itu merupakan nilai produksi secara keseluruhan dan bukan berarti seluruhnya menjadi tambahan pendapatan bersih petani.
PM-AAS dikembangkan dengan menggabungkan teknologi dan mekanisasi pertanian. Sistem tersebut mencakup penggunaan benih unggul, penanaman langsung atau direct seeding, pemupukan terukur, pengelolaan air, mekanisasi, serta pengendalian hama dan gulma.
Dari sisi biaya, Amran memperkirakan petani membutuhkan tambahan modal sekitar Rp2 juta per hektare, terutama untuk benih dan pupuk. Namun, tambahan biaya tersebut dinilai masih sebanding dengan potensi peningkatan penghasilan.
“Lebih tinggi Rp2 juta (modalnya) tetapi (petani) penghasilannya naik Rp30 juta, Rp35 juta,” ujar Amran.
Selain meningkatkan produktivitas, sistem tanam langsung juga dinilai dapat memangkas waktu karena tidak membutuhkan proses persemaian seperti pola konvensional. Efisiensi waktu tersebut dinilai membuka peluang penerapan pola tanam hingga tiga kali dalam setahun.
“Ini langsung direct seeding. Jadi dari padi, bibit benih ini langsung disemai. Tidak ada lagi biaya untuk pembibitan. Ini menguntungkan segi waktu,” kata Amran.












