Uji Coba di China Menunjukkan Sel Punca Jaringan Gusi Membantu 55 Persen Pasien Diabetes Seumur Hidup

Song Guo Zheng, yang dipenjara di AS selama Inisiatif China di era Trump, melanjutkan penelitiannya dengan hasil klinis awal yang menjanjikan.

Foto: closeup

Tajuk.co SHANGHAI – Sebuah uji klinis fase 1 acak yang dilakukan oleh para ilmuwan dan dokter dari Shanghai dan Guangzhou telah mencapai hasil yang menggembirakan dalam pengobatan diabetes tipe 1 menggunakan sel punca (stem cells) yang diekstrak dari jaringan gusi di dalam mulut.

Peneliti menyebut, lebih dari separuh pasien yang menerima perawatan tersebut menunjukkan berbagai tingkat pembaikan kondisi, sementara satu subjek dapat menghentikan terapi insulin eksogen (dari luar) sepenuhnya.

Hasil penelitian tersebut, yang menguji terapi berbasis sel punca mesenkim gingiva (GMSC), diterbitkan pada 30 September di jurnal medis Signal Transduction and Targeted Therapy.

Penderita diabetes tipe 1 tidak menghasilkan cukup insulin dan harus mengonsumsinya agar dapat bertahan hidup. Bentuk diabetes ini tidak dapat dicegah dan belum ada obatnya.

Penderita kondisi ini harus memeriksa gula darah mereka—dengan menusuk jari mereka—beberapa kali setiap hari dan memerlukan suntikan insulin setelah setiap kali makan. Rata-rata, mereka dapat menyuntikkan insulin sebanyak empat hingga lima kali sehari.

Terapi berbasis sel punca tradisional untuk diabetes tipe 1 menggunakan sel punca pankreas dan sumsum tulang, namun jenis ini sulit diperoleh dan rentan ditolak oleh sistem kekebalan tubuh.

“Penelitian ini memberikan bukti klinis yang kuat mengenai terapi GMSC untuk diabetes mellitus tipe 1 (T1DM) dan menawarkan arah baru yang menjanjikan bagi pengembangan terapi bertarget kekebalan tubuh untuk T1DM,” tulis penulis korespondensi Song Guo Zheng.

Zheng, seorang imunolog terkemuka yang kini berada di Shanghai Jiao Tong University, adalah salah satu target profil tertinggi dari kontroversial China Initiative yang diluncurkan pada masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump untuk melawan dugaan spionase oleh para ilmuwan China.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *