Anggota Parlemen AS Desak Starbucks Tutup Gerai di Xinjiang

Foto: starbucks

Tajuk.co WASHINGTON – Ketua Komite Khusus untuk Tiongkok di DPR AS (House of Representatives) John Moolenaar mendesak, Starbucks untuk menutup toko-toko pertamanya di Xinjiang, Tiongkok. Ia menyebutnya sebagai “keputusan yang bangkrut secara moral” karena berbisnis di wilayah di mana suku Uyghur menghadapi penindasan.

Starbucks membuka dua toko pertamanya minggu ini di ibu kota Xinjiang, Urumqi, termasuk satu toko di pusat perbelanjaan grand bazaar kota tersebut dan toko kedua di bandara internasionalnya. John meminta Starbucks untuk “segera berbalik arah dan menutup toko-tokonya.”

“Ini adalah keputusan yang mengejutkan dan bangkrut secara moral bagi perusahaan yang membanggakan tanggung jawab sosialnya,” katanya dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan Kamis, pekan lalu.

“Tidak ada alasan yang dapat dibenarkan bagi perusahaan Amerika untuk berbisnis di wilayah di mana PKC (Partai Komunis Tiongkok) telah menahan lebih dari satu juta warga Uyghur dan merampas kepercayaan, bahasa, serta budaya mereka.”

Baik Starbucks maupun Kementerian Luar Negeri Tiongkok tidak segera menanggapi desakan itu. Tiongkok saat ini sedang berada di tengah libur hari nasional selama seminggu. Starbucks menyatakan di platform resmi WeChat minggu ini bahwa toko-toko tersebut bukan sekadar gerai kopi baru di Xinjiang, melainkan sebuah pengalaman baru yang memadukan budaya lokal dan kebutuhan pelanggan.

“Perusahaan akan terus berinvestasi di Xinjiang,” ujar Chief Executive Officer Starbucks Tiongkok, Liu Wenjuan, dalam unggahan di WeChat tersebut.

Foto-foto toko yang diunggah di platform itu menunjukkan logo Starbucks dalam bahasa Inggris dan Mandarin. Tidak terlihat adanya tanda-tanda penggunaan bahasa Uyghur. Bahasa Uyghur ditulis menggunakan aksara berbasis Arab dan seharusnya memiliki kesetaraan resmi di Xinjiang.

Pada bulan April 2026, Starbucks menyelesaikannya kerja sama usaha (joint venture) di Tiongkok dengan menggandeng investor strategis, Boyu Capital, sebagai pemegang saham sebesar 60 persen. Usaha patungan tersebut mengoperasikan sekitar 8.000 gerai di Tiongkok.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *