Tajuk.co, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut dinilai menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara meski perekonomian global masih dibayangi berbagai tantangan.
Airlangga mengatakan pada kuartal II 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen (yoy). Menurutnya, angka tersebut cukup positif mengingat pada periode tersebut tidak terdapat momentum musiman besar seperti Hari Raya Idulfitri yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat.
Ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di atas lima persen meski dunia masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, perang dagang, hingga percepatan disrupsi teknologi.
Pemerintah optimistis tren positif tersebut akan berlanjut pada semester II 2026 sehingga target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen dapat tercapai.
Airlangga menyebut capaian pertumbuhan sebesar 5,45 persen pada semester pertama tahun ini sekaligus mempertahankan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di atas lima persen selama tujuh tahun terakhir.
Di tingkat regional, pertumbuhan ekonomi Indonesia disebut termasuk yang tertinggi di ASEAN. Meski demikian, Airlangga mengakui laju pertumbuhan Vietnam masih lebih tinggi dengan kisaran delapan persen.
Berdasarkan wilayah, Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1 persen atau melampaui rata-rata nasional. Menurut Airlangga, kondisi tersebut menunjukkan sektor pariwisata kembali menjadi penggerak utama ekonomi daerah melalui peningkatan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Sementara itu, Pulau Jawa tetap menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan sumbangan mencapai 56,4 persen. Pertumbuhan ekonomi di kawasan ini juga melampaui rata-rata nasional, yakni sebesar 5,65 persen, yang mencerminkan kuatnya aktivitas rantai pasok nasional.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB dengan kontribusi 18,5 persen dan pertumbuhan sebesar 4,52 persen. Adapun sektor penyediaan akomodasi serta makan dan minum tumbuh paling tinggi, yakni 10,6 persen.
Selain itu, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan 6,68 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menilai sejumlah program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), turut memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi di berbagai sektor.












