Posisi Puncak Korporasi Konglomerasi Tata India Kosong  

Foto: Tata

Tajuk.co MUMBAI – Pengunduran diri secara mengejutkan Chairman Tata Sons, N Chandrasekaran, awal bulan ini  membuat posisi puncak  korporasi India menjadi kosong. Namun, menemukan penerusnya bukanlah tugas yang mudah bagi konglomerat paling dihormati di India, yang kekaisaran bisnisnya mencapai nilai $300 miliar atau setara Rp 550 triliun membentang dari Jaguar Land Rover dan Air India hingga memproduksi iPhone untuk Apple.

Chandrasekaran mengundurkan diri di tengah jalan buntu terkait pengangkatannya kembali serta keretakan yang kian melebar dengan Tata Trusts—badan amal yang memegang saham pengendali di perusahaan induk komersial non-publik tersebut.

Perselisihan tersebut berpusat pada rencana penawaran saham perdana (IPO) Tata Sons serta alokasi modal untuk berbagai bisnis baru kelompok usaha tersebut yang belum terdaftar di bursa, termasuk semikonduktor, e-commerce, dan penerbangan, yang semuanya saat ini masih mengalami kerugian.

Grup bisnis ini sedang berada di tengah-tengah siklus investasi modal terbesar yang pernah ada, dengan puluhan miliar dolar dikerahkan untuk segala hal, mulai dari membangun pabrik fabrikasi chip pertama di India hingga memproduksi baterai EV dan membenahi Air India, yang dibeli keluarga Tata dari pemerintah pada tahun 2022.

Sosok baru yang akan memimpin perlu memiliki kemampuan untuk menilai dan menanggung risiko yang timbul akibat ekspansi yang sangat cepat ini, serta menghadapi berbagai tantangan lainnya, kata Hetal Dalal dari Institutional Investor Advisor Services (IiAS), sebuah firma penasihat tata kelola, kepada BBC.

“Ini adalah peran yang sangat sulit, bukan hanya bagi individu yang akan mendapatkannya, tetapi juga bagi panitia seleksi untuk menemukan seseorang yang tepat. Peran ini membutuhkan beragam keahlian dan pengalaman, mulai dari mengelola Tata Trusts hingga dewan Tata Sons, memahami berbagai bisnis baru, dan juga mampu menjalin hubungan yang kuat dengan regulator serta pemerintah,” ujar Dalal.

“Tidak banyak orang yang memimpin konglomerat sebesar dan terdiversifikasi ini. Dan apakah mereka akan meninggalkan peran mereka saat ini untuk bergabung dengan Tata Group?”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *