Tajuk.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (31/7). Mata uang Garuda dibuka di level Rp18.055 per dolar AS, menguat 56 poin atau sekitar 0,31 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah kinerja mata uang Asia yang bervariasi. Yuan China menguat 0,03 persen, peso Filipina naik 0,31 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,10 persen terhadap dolar AS.
Sebaliknya, dolar Singapura melemah 0,19 persen, yen Jepang turun 0,70 persen, won Korea Selatan terkoreksi 0,78 persen, sementara dolar Hong Kong melemah tipis 0,01 persen.
Di kelompok mata uang negara maju, mayoritas juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Euro turun 0,12 persen, poundsterling Inggris melemah 0,07 persen, dolar Australia terkoreksi 0,04 persen, dolar Kanada turun 0,01 persen, dan franc Swiss melemah 0,20 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatannya seiring melemahnya dolar AS setelah rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Menurutnya, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS yang lebih rendah dari perkiraan menjadi salah satu faktor yang menekan dolar AS.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa ruang penguatan rupiah masih dibayangi sejumlah risiko eksternal, antara lain meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta sentimen domestik yang masih relatif lemah.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.050 per dolar AS.












