Tajuk.co, SEMARANG — Provinsi Jawa Tengah mencatatkan angka peminat yang cukup tinggi dalam program pemagangan di Jepang. Jumlah tersebut terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Menurut data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, pada tahun 2026, sebanyak 401 dari 508 pendaftar telah mengikuti seleksi tingkat provinsi.
Selanjutnya, peserta akan kembali mengikuti seleksi nasional bersama Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan International Manpower Development Organization atau IM Japan, mitra resmi Kemnaker di Jepang.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Arinugroho memberikan apresiasi sekaligus mendorong pengelolaan program secara berkelanjutan.
Ia berharap, program ini bisa diakses secara merata dan lebih meluas, sehingga lebih banyak pula SDM yang bisa dikembangkan dan menekan angka pengangguran.
“Program magang kerja di Jepang punya tren peminat yang terus meningkat tiap tahunnya. Sekarang, PR kita bersama adalah pengelolaan program secara berkelanjutan untuk membentuk ekosistem yang baik. Kita harus mengupayakan semua memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri,” ungkap Ari saat ditemui pada Ahad (19/07/2026).

Kualitas SDM yang Diakui
Jawa Tengah sendiri menjadi salah satu provinsi pilihan yang dituju IM Japan karena dinilai memiliki SDM muda yang antusias dan energik. Karakter generasi muda yang demikian adalah modal yang dibutuhkan oleh industri Jepang.
Perusahaan-perusahaan Jepang memang dikenal memiliki etos kerja tinggi, kedisiplinan, dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Mereka sangat menghargai kualitas personal dan sikap saling menghormati sesama.
Jepang telah memberikan kepercayaan melalui kerja sama dalam program ini. Diharapkan, SDM Indonesia mampu menunjukkan kapasitas dan menjaga nilai-nilai luhur.
Pemagangan kerja di Jepang tidak bisa dilihat hanya sebagai penempatan kerja. Peserta pemagangan juga harus bertanggung jawab untuk menyerap budaya kerja di Jepang untuk kemudian diterapkan di Indonesia.
Hal tersebut sejalan dengan harapan yang disampaikan Ari tentang peran dan kontribusi setelah program magang selesai.
“Magang kerja di Jepang itu termasuk pencapaian yang tinggi. Peserta harus melewati berbagai seleksi untuk lolos. Jadi, penting untuk menjaga integritas selama magang. Kita harus melihat (program ini) sebagai peluang untuk mengembangkan industri lokal, bukan hanya sarana menghasilkan uang,” terang Ari.
Memastikan Perlindungan Peserta Terjamin
Ari juga menyoroti upaya perlindungan pekerja magang dari tahap awal, pendampingan, hingga tahap akhir magang. Ia menilai perlindungan ini harus menjadi prioritas mengingat para pekerja magang adalah investasi masa depan.
“Kita (pemerintah) juga memiliki peran untuk memberikan perlindungan yang memadai dan terbaik (bagi para pekerja). Mereka adalah aset. Dan mereka memiliki potensi sangat besar bagi industri di masa depan.”
Alumni magang kerja di Jepang diharapkan memiliki nilai dan karakter unggul agar memiliki daya saing di kancah global. Pengelolaan yang tepat, baik program maupun SDM tentu akan berdampak pada pembangunan Jawa Tengah.












