Super Flu H3N2 Terdeteksi di 13 Provinsi, Anak Jadi Kelompok Rentan

Tajuk.co, JAKARTA — Kasus influenza A di Indonesia kembali mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Kementerian Kesehatan RI melaporkan subtipe Influenza A H3N2 subclade K telah ditemukan di 13 provinsi di Indonesia.

Subclade tersebut belakangan ramai disebut sebagai “Super Flu”. Peningkatan kasus juga dilaporkan terjadi di Jawa Timur, seiring dengan meningkatnya aktivitas influenza di kawasan Asia Tenggara berdasarkan data Respiratory Viruses Surveillance Bulletin WHO hingga minggu epidemiologi ke-35 tahun 2026.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam peningkatan kasus influenza. Infeksi pada anak dapat berkembang menjadi komplikasi apabila tidak ditangani dengan tepat.

Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), mengatakan data global menunjukkan anak berusia 0-17 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi influenza dengan gejala dibandingkan orang dewasa.

“Data global menunjukkan bahwa anak usia 0-17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa,” kata Hikari dalam keterangan resmi, Selasa (22/9/2026).

Menurut Hikari, sistem kekebalan tubuh anak masih berkembang sehingga kemampuan tubuh dalam mengendalikan infeksi virus belum sekuat orang dewasa. Anak juga dapat melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan dalam periode yang lebih panjang.

Kondisi tersebut membuat anak berpotensi menjadi salah satu sumber penularan influenza di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Sementara itu, Prof Dr dr Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, menekankan pentingnya mengenali infeksi influenza sejak dini dan memberikan penanganan yang sesuai.

Pada anak yang memiliki faktor risiko tertentu, influenza dapat berkembang menjadi kondisi serius. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi antara lain pneumonia, memburuknya kondisi asma, miokarditis, hingga ensefalopati.

Anggraini menyebut pemeriksaan laboratorium dapat membantu memastikan diagnosis, terutama melalui metode RT-PCR yang memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta dapat membantu mengidentifikasi subtipe virus.

Dalam penanganan influenza, obat antivirus golongan neuraminidase inhibitor seperti oseltamivir dapat efektif apabila diberikan dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul. Namun, penggunaannya perlu mengikuti penilaian dan anjuran tenaga medis.

Selain pengobatan, IDAI juga menekankan pentingnya upaya pencegahan. Vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun dan penerapan kebiasaan hidup bersih menjadi bagian dari langkah untuk mengurangi risiko penularan.

Secara global, influenza diperkirakan menyebabkan sekitar 1 miliar infeksi setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 3-5 juta kasus dapat berkembang menjadi penyakit berat dan sekitar 290 ribu hingga 650 ribu kematian setiap tahun berkaitan dengan gangguan pernapasan akibat influenza.

Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi meliputi anak berusia di bawah lima tahun, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, serta tenaga kesehatan dan pengasuh.

Dengan ditemukannya H3N2 subclade K di sejumlah wilayah Indonesia, masyarakat diimbau memperhatikan gejala influenza, terutama pada anak dan kelompok rentan, serta segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila muncul gejala berat atau kondisi memburuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *