Tajuk.co, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan tuntutan keras terhadap Iran. Ia meminta Teheran membayar kompensasi atas korban jiwa dan luka-luka yang disebutnya terjadi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Trump menyampaikan tuntutan tersebut melalui unggahan di Truth Social pada Senin (10/8). Menurutnya, persoalan kompensasi akan menjadi salah satu agenda yang dibawa dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Ia mengatakan pembayaran tersebut nantinya ditujukan kepada keluarga korban yang meninggal maupun mengalami luka serius akibat konflik.
Trump juga menyebut sejumlah peristiwa dan korban yang menurutnya harus masuk dalam perhitungan kompensasi. Ia menyinggung korban insiden USS Cole serta korban lainnya yang tewas dalam berbagai pertempuran.
Selain itu, Trump menuduh Iran bertanggung jawab atas kematian para demonstran dalam beberapa dekade terakhir. Ia juga memasukkan korban yang disebutnya meninggal dalam konflik selama lima bulan terakhir.
Tak berhenti di situ, Trump mengatakan tuntutan pertanggungjawaban juga akan diarahkan terhadap kerusakan dan korban jiwa yang terjadi di sejumlah wilayah Timur Tengah, termasuk Lebanon, Suriah, Yaman, dan Jalur Gaza.
Trump menegaskan tuntutan tersebut akan dibawa dalam setiap pembicaraan yang berkaitan dengan upaya mencapai kesepakatan damai dengan Iran.
Sikap tersebut berpotensi semakin memperumit proses diplomasi Washington dan Teheran. Perundingan damai sebelumnya telah menghadapi hambatan seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Tuntutan Trump muncul setelah Iran sebelumnya mendesak adanya pembayaran reparasi perang oleh Amerika Serikat sebagai salah satu syarat untuk menghentikan pertempuran.
Konflik yang melibatkan kedua pihak juga berdampak terhadap kondisi ekonomi global. Blokade Iran di Selat Hormuz disebut telah mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas perekonomian dunia.
Situasi tersebut turut menjadi tekanan politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.












