Erdogan Serukan Rekonstruksi Gaza Harus Segera Mulai

Reformasi Dewan Keamanan PBB mendesak

Presiden Turkiye Recep Tayip Erdogan berbicara di Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, AS. Foto: anadolu

Tajuk.co NEW YORK – Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, Selasa (23/9/2926)  menyerukan agar rekonstruksi Gaza segera dimulai dan meminta masyarakat internasional meningkatkan tekanan terhadap Israel.

“Kita harus memulai rekonstruksi Gaza tanpa membuang waktu. Dalam hal ini, saya menyerukan kepada Anda semua untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel,” katanya.

Erdogan menandaskan,  Turkiye tetap berkomitmen terhadap kesepakatan yang ditandatangani di Sharm el-Sheikh setahun lalu dan akan terus mengawal pelaksanaannya.

Dia juga mengatakan, berbagai upaya untuk menghalangi berdirinya negara Palestina pada akhirnya akan gagal.

“Semua orang kini harus memahami dan menerima hal ini: Upaya untuk mencekik negara Palestina akan berakhir dengan kegagalan,” katanya.

Erdogan berharap negara Palestina yang merdeka dan memiliki kesatuan wilayah berdasarkan perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, pada akhirnya dapat terwujud.

“Insyaallah, kita akan melihat hari-hari indah ketika negara Palestina yang merdeka dan memiliki kesatuan wilayah, berdasarkan perbatasan 1967 dan dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, benar-benar berdiri,” katanya.

Abbas kembali tidak hadir di PBB

Mengawali pidatonya, Erdogan menyampaikan keprihatinan karena Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak dapat menghadiri Sidang Majelis Umum PBB selama dua tahun berturut-turut.

“Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak dapat berada di ruangan ini selama dua tahun berturut-turut. Ketidakadilan terhadap saudara-saudara Palestina ini melukai hati nurani,” katanya.

Erdogan mengatakan Turkiye akan tetap menyuarakan dukungan terhadap negara Palestina yang merdeka dan berdaulat meski Abbas tidak hadir.

“Meskipun Abbas tidak dapat berada di sini secara langsung, seperti tahun lalu, kami akan menjadi suara bagi negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,” katanya.

Dia kembali menyerukan negara-negara yang belum mengakui Palestina untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka.

Situasi kemanusiaan di Gaza

Erdogan menyebut Gaza sebagai wilayah yang telah menjadi “pemakaman anak-anak terbesar di dunia” dan memiliki tingkat amputasi anak tertinggi di dunia.

Menurut dia, sekitar 74.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah tewas di Gaza selama tiga tahun terakhir dalam apa yang disebutnya sebagai “teror negara Israel.”

Erdogan mengungkapkan, warga Palestina masih mencari anggota keluarga mereka di bawah reruntuhan dan menemukan jenazah pasangan, anak maupun orang tua mereka.

Sementara itu, anak-anak yang kehilangan anggota tubuh akibat serangan Israel berusaha kembali bersekolah dan melanjutkan kehidupan dengan menggunakan kaki palsu dari kayu.

Dia mengatakan lebih dari 70 persen generator di rumah sakit Gaza saat ini tidak berfungsi akibat kekurangan bahan bakar.

“Gaza adalah kamp konsentrasi paling tidak manusiawi dan paling memalukan pada zaman kita,” katanya.

Erdogan mengatakan lebih dari 1.500 warga Palestina tewas bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025 yang dicapai melalui upaya Presiden AS Donald Trump dengan kontribusi Turkiye dan sejumlah negara lainnya.

Menurut dia, meski kelompok perlawanan Palestina telah menyetujui peralihan ke tahap kedua rencana perdamaian, pemerintah Israel tidak bersedia mengakhiri pendudukan.

Erdogan juga menyoroti situasi di Tepi Barat yang diduduki dan mengatakan wilayah tersebut sedang mengalami salah satu periode terburuk akibat kekerasan pemukim.

Dia mengatakan umat Muslim dan Kristen juga menghadapi hambatan untuk mengakses tempat-tempat suci di Yerusalem, sementara badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) menjadi sasaran.

“Kita menghadapi pola pikir genosida yang tidak pernah puas dengan pembunuhan,” kata Erdogan.

Dia menegaskan persoalan Palestina bukan masalah pribadi baginya, melainkan persoalan kemanusiaan dan hati nurani bersama.

Serukan reformasi PBB

Erdogan mengatakan situasi di berbagai wilayah konflik menunjukkan PBB, yang didirikan 81 tahun lalu untuk menjaga perdamaian dan keamanan, tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya secara maksimal.

Menurut dia, masyarakat di Palestina, Lebanon, Sudan dan berbagai kawasan krisis lainnya yang menaruh harapan kepada PBB mengalami kekecewaan mendalam.

“Suatu hari nanti, semua orang akan membutuhkan perlindungan dari hati nurani bersama umat manusia,” katanya.

Erdogan mengatakan tema Sidang Majelis Umum tahun ini yang berfokus pada pemulihan kepercayaan terhadap sistem internasional sangat relevan.

Dia juga menyatakan dukungan terhadap upaya reformasi Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, termasuk Inisiatif UN80.

Menurut Erdogan, kepercayaan terhadap PBB baru dapat dipulihkan ketika anak-anak di Gaza dapat hidup dengan aman dan melihat layang-layang di langit, bukan pesawat tempur dan drone.

Dia juga menyinggung anak-anak Lebanon yang hidup di tengah suara bom, eksploitasi terhadap pekerja, serta masa depan masyarakat Afrika.

Erdogan kembali menyerukan reformasi Dewan Keamanan PBB.

Menurut dia, sistem yang membuat kehendak lebih dari 190 negara bergantung pada lima negara tidak adil dan tidak mampu sepenuhnya membangun kepercayaan.

“Dewan Keamanan harus direformasi sesuai prinsip bahwa ‘dunia lebih besar dari lima’,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *