Hotspot Riau Anjlok 60 Persen, Lahan Gambut Kerumutan Masih Jadi Sorotan

Tajuk.co, PEKANBARU — Jumlah titik panas atau hotspot di Provinsi Riau turun signifikan pada Rabu (26/8/2026) pagi. Dari 256 titik yang terpantau sehari sebelumnya, jumlah tersebut berkurang menjadi 100 titik atau turun sekitar 60,9 persen.

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengatakan penurunan tersebut menjadi perkembangan positif dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski demikian, jajaran gabungan tetap diminta siaga karena masih terdapat sembilan hotspot kategori high yang membutuhkan verifikasi dan penanganan segera.

“Pagi ini terpantau 100 hotspot, turun 60,9 persen dibandingkan kemarin. Ini perkembangan yang positif, tetapi belum membuat kita mengendurkan penanganan. Masih ada sembilan titik kategori high yang menjadi prioritas untuk segera diverifikasi dan ditangani,” kata Herry, Rabu (26/8/2026).

Dari 100 titik panas yang terpantau, Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 28 titik. Selanjutnya terdapat Indragiri Hilir dengan 23 titik, serta Siak dan Indragiri Hulu masing-masing 14 titik.

Penurunan jumlah hotspot turut dipengaruhi hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Riau. Hujan tercatat turun di Bengkalis, Rokan Hilir, Dumai, Siak, Rokan Hulu, serta sebagian wilayah Pekanbaru dan Kampar.

Namun, kondisi berbeda masih terjadi di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Wilayah tersebut belum memperoleh curah hujan yang signifikan sehingga masih menjadi salah satu lokasi utama penanganan karhutla.

Herry menjelaskan karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman di Kerumutan membutuhkan penanganan khusus. Api yang terlihat padam di permukaan belum tentu menghilangkan bara yang masih berada di lapisan bawah tanah.

Meski demikian, perkembangan penanganan di Kerumutan menunjukkan tren positif. Jumlah hotspot di wilayah tersebut turun dari 84 titik menjadi 28 titik pada Rabu pagi atau berkurang sekitar 66,67 persen.

Dari total 969,60 hektare lahan yang terbakar, sebanyak 763,22 hektare atau sekitar 78,71 persen telah berhasil dipadamkan. Sementara sekitar 206,38 hektare masih dalam proses penanganan.

“Kerumutan ini gambut. Yang kita hadapi bukan hanya api yang terlihat, tetapi juga bara di bawah permukaan. Karena itu, ketika api di permukaan padam, pekerjaan belum selesai. Pendinginan harus dilakukan berulang dan setiap area yang sudah ditangani tetap dipantau untuk mencegah penyalaan kembali,” ujar Herry.

Personel gabungan dari Polri, TNI, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, dan masyarakat masih melakukan pemadaman serta pendinginan secara intensif.

Penyekatan area, patroli darat dan udara, hingga pemantauan titik api juga terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas maupun kembali muncul setelah proses pemadaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *