Media AS Sebut Trump “Bercanda” Soal Deklarasi Selat Hormuz Sebagai Wilayah AS

Presiden belum membahas langkah tersebut dengan para penasihatnya, kata wartawan Wall Street Journal, mengutip pejabat senior Gedung Putih.

Foto: Ynet

Tajuk,co WASHINGTON – Media AS menyebut, Presiden AS Donald Trump “bercanda” ketika mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah perang dengan Iran. Mengutip seorang pejabat senior Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya, wartawan Wall Street Journal, Brian Schwartz, melalui platform media sosial AS, X menulis,  Trump belum bertemu dengan para penasihatnya untuk membahas langkah semacam itu.

“Presiden Trump belum bertemu dengan para penasihatnya mengenai klaim Selat Hormuz sebagai wilayah AS pasca-perang dan ia hanya bercanda saat berpidato hari ini di New York,” tulis Schwartz.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah rapat umum politik di Nassau County Police Academy di Garden City, New York, Jumay waktu setempat.

“Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang saat ini berada dalam kondisi sangat kalah — tidak lama lagi saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” ujarnya terkekeh. “Itu benar,” tambahnya.

Schwartz, yang menghadiri pidato tersebut mengatakan, Trump terkekeh setelah menyampaikan pernyataan tersebut, tetapi kemudian tampak menegaskan bahwa hal itu benar.

Trump juga mengklaim, Washington mengendalikan akses maritim melalui jalur perairan yang sangat vital secara strategis tersebut.

“Kami memegang blokadenya. Tidak ada kapal yang dapat lewat kecuali jika kami mengizinkannya,” tegasnya di hadapan para pendukung.

Iran Membantah Klaim Kontrol AS

Sementara itu Pejabat militer Iran membantah klaim tersebut, di mana komando militer pusat Iran pada hari Kamis menyebut pernyataan kontrol AS atas jalur perairan tersebut sebagai “kebohongan dan rekayasa yang tidak berdasar.”

Per 12 Agustus, sebanyak 3.371 kapal telah melintasi selat tersebut dalam 166 hari sejak perang dimulai, yang mewakili sekitar 20% dari volume lalu lintas pra-perang, menurut data dari perusahaan analitik komoditas dan pelayaran Kpler yang dikutip CNN.

AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan pada bulan April dan kemudian menandatangani kesepakatan pada 17 Juni untuk memulai negosiasi menuju perjanjian akhir. Namun, pembicaraan tersebut selanjutnya terhenti karena ketidaksepakatan, termasuk jaminan keamanan dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz.

Kedua belah pihak juga saling melakukan serangan militer dari tanggal 8 hingga 24 Juli, di mana Washington menyerang sasaran-sasaran di dalam wilayah Iran, dan Teheran membalas dengan serangan terhadap apa yang diklaimnya sebagai fasilitas serta peralatan militer AS di beberapa negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan merupakan salah satu rute pengiriman energi paling penting di dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *