Mega Ingatkan Kader PDIP Dekati Rakyat Jangan untuk Minta Suara Saja

Ketua Umum Megawati Soekarnoputri menyampaikan amanatnya saat Peringatan HUT RI ke 81 di Jakarta, Senin (17/8/2026). Foto: pdip

Tajuk,co JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengingatkan  kader PDIP pentingnya mendekatkan diri kepada rakyat. Bukan menjelang Pemilu saja baru dekat dengan rakyat, Salah satu poin yang ditekankan Ketua Umum adalah pentingnya mendekatkan diri kepada rakyat secara nyata, bukan hanya saat kampanye.

“Turun ke rakyat bukan hanya untuk meminta suara, tapi untuk mendengarkan keluh kesah dan membantu memecahkan masalah mereka,” ujar Megawati Soekarnoputri dalam amanatnya pada upacara HUT RI ke-80 di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan pada Minggu (17/8/2025).

Mega juga menyinggung soal kader yang menyalahgunakan kekuasaan dan partai demi kepentingan pribadi. Megawati mengingatkan bahwa PDI Perjuangan adalah alat perjuangan rakyat, bukan sarana untuk memperkaya diri

“Perkuat disiplin organisasi, ideologi, teori, gerakan dan tindakan. Jangan lupa sekali lagi, tindakan, pergilah kalian turun ke bawah ke akar rumput. Tanpa disiplin, partai akan menjadi rapuh dan mudah diombang-ambingkan kepentingan,” tandas dia.

“Turun ke rakyat bukan hanya untuk meminta suara, tapi untuk mendengarkan keluh kesah dan membantu memecahkan masalah mereka,” lanjutnya. .

Mega juga meminta kader PDIP melawan segala bentuk penyalahgunaan, dan pengkhianatan terhadap konstitusi.

“Saya tidak mau mendengar ada kader yang merasa dirinya lebih tinggi dari rakyat. Rakyat mempunyai hak yang tertinggi di negara ini, apalagi yang memanfaatkan partai untuk kepentingan pribadi,” imbuh dia.

Mega juga mengingatkan, kader hanya alat perjuangan, bukan tujuan perjuangan itu sendiri, untuk memperkaya diri sendiri, berkuasa untuk sendiri.

“Saya ingin mengingatkan pesan Bung Karno, ‘perjuanganku lebih mudah, karena hanya mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit, karena melawan bangsa mu sendiri, ini sekarang, bukan lagi kolonialisme fisik, tetapi kolonialisme gaya baru, yang menyusup dalam kebijakan, dalam ekonomi, bahkan dalam budaya kita,” tutupnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *