Hikmah  

Tinjauan Psikologis Meringankan Bacaan dalam Sholat Berjamaah

Foto: IST

Tajuk.co – “Perjalanan terberat di dunia adalah perjalanan ke masjid”. Ungkapan ini sering kali kita dengar untuk menggambarkan betapa besarnya perjuangan seorang hamba dalam melawan rasa malas, lelah, dan godaan duniawi demi melangkahkan kaki menuju rumah Allah. Namun, setelah perjuangan fisik dan batin yang tidak mudah itu berhasil dimenangkan, sangat disayangkan jika jamaah justru merasa “terbebani” kembali di dalam shalat akibat bacaan imam yang terlalu panjang.

Perjalanan yang berat ke masjid menjadi tambah berat bagi jamaah awam. Itu sebabnya banyak jamaah yang memilih sholat di rumah ketimbang ke masjid. Atau ada juga yang sengaja menunda ke masjid, sampai rakaat kedua selesai alias masbuq.

Oleh karena itu, Islam menghadirkan ajaran yang sangat bijak berupa  anjuran untuk meringankan bacaan shalat saat menjadi imam. Hal ini bukan sekadar kompromi, melainkan bentuk kasih sayang yang memiliki landasan psikologis dan dalil syar’i yang kuat.

Secara psikologis maupun syar’I meringankan bacaan saat menjadi imam sangat dianjurkan.

Alasan Psikologis Mengapa Imam Harus Meringankan Bacaan

Pertama, Batas Keterbatasan Attention Span (Rentang Perhatian)

Secara kognitif, kemampuan manusia mempertahankan fokus penuh (sustained attention) sangat terbatas. Ketika makmum—terutama yang tidak memahami bahasa Arab—mendengarkan bacaan yang sangat panjang, otak akan mengalami kelelahan kognitif.

Ketika mendengar suara atau bacaan tanpa memahami maknanya, otak tidak mendapatkan stimulus pemrosesan informasi (makna), sehingga otomatis aktif sistem Default Mode Network (DMN). Akibatnya, pikiran makmum akan spontan melayang (mind-wandering) ke hal-hal lain seperti urusan pekerjaan, rasa lelah, rasa pegal di kaki, atau teringat tumpukkan cicilan utang yang harus diselesaikan. Hal ini otomatis merusak kekhusyukan.

Kedua, Efek “Kebisingan Putih” (White Noise Effect)

Bagi orang yang tidak mengerti bahasa Arab, bacaan yang terlalu panjang tanpa jeda, lambat laun hanya akan terdengar seperti suara latar (background sound). Otak manusia cenderung mengabaikan stimulus yang monoton dan tidak dipahami, sehingga tingkat kewaspadaan dan kehadiran hati (hudhurul qalb) menurun drastis.

KetigaKondisi, Fisik dan Emosional Jamaah yang Beragam

Jamaah yang datang ke masjid memiliki latar belakang kondisi yang berbeda-beda. Ada yang baru selesai bekerja seharian, lansia dengan nyeri sendi, orang yang sedang sakit, atau ibu yang meninggalkan balitanya. Berdiri terlalu lama murni memicu rasa tidak nyaman secara fisik (discomfort), yang kemudian menjadi distraksi internal utama saat shalat.

Berdiri terlalu lama tanpa keterikatan emosional/pemikiran terhadap ayat yang dibaca memicu rasa lelah fisik (pegal pada punggung atau kaki). Rasa tidak nyaman pada tubuh ini menjadi distraksi internal utama yang mengalihkan perhatian makmum dari ibadah ke kondisi fisiknya sendiri.

Keempat, Mencegah Asosiasi Negatif terhadap Shalat Jamaah

Dalam psikologi perilaku, pengalaman yang menimbulkan rasa lelah berlebihan atau ketidaknyamanan dapat menciptakan persepsi bahwa shalat jamaah adalah beban yang berat. Jika hal ini terjadi terus-menerus, motivasi seseorang untuk kembali ke masjid bisa menurun drastis.

Dalam studi kognitif dan pandangan fikih, bacaan surat yang terlalu panjang—terutama ketika makmum tidak memahami maknanya—sangat berpotensi menurunkan tingkat khusyuk dan meningkatkan distraksi (pengalihan perhatian, fokus, atau konsentrasi seseorang dari objek atau kegiatan utama ke hal lain).

Ketika terjadi distraksi, otak yang tadinya memproses informasi pada tugas utama (sustained attention) terputus, sehingga tingkat produktivitas, pemahaman, atau pemaknaan (seperti dalam ibadah/kekhusyukan) menjadi menurun.

Dalil-Dalil Syar’i tentang Meringankan Bacaan Shalat

Keharusan memahami kondisi jamaah ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW melalui beberapa hadis shahih:

Perintah Tegas untuk Meringankan Shalat Jamaah

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian menjadi imam bagi manusia, maka hendaklah ia meringankan (bacaannya), karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Dan jika ia shalat sendiri, maka panjangkanlah sesukanya.” (HR. Bukhari no. 703 & Muslim no. 467)

Teguran Nabi Terhadap Imam yang Memanjangkan Bacaan

Kisah masyur terkait ini terjadi terjadi Mu’adz bin Jabal RA mengimami shalat dan membaca surat yang sangat panjang, hingga membuat seorang pekerja yang kelelahan memilih memisahkan diri (mufaraqah). Ketika hal ini dilaporkan, Rasulullah SAW menegur sahabatnya itu dengan tegas:

“Apakah engkau ingin menjadi penyebar fitnah (membuat orang merasa berat dan benci dengan ibadah), wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah Was-syamsi wa dhuhaha (QS. Asy-Syams), Sabbihisma rabbikal a’la (QS. Al-A’la), atau Wal-layli idza yaghsya (QS. Al-Lail).” (HR. Bukhari no. 705 & Muslim no. 465)

Nabi Menyingkat Shalat karena Memperhatikan Jamaah

Bahkan Rasulullah SAW sendiri sering kali mempercepat shalatnya ketika mendengar tangisan bayi, demi menjaga perasaan ibu si bayi yang sedang menjadi makmum:

“Sungguh aku berdiri untuk shalat dan aku ingin memanjangankannya, lalu aku mendengar tangisan bayi, maka aku pun mempercepat shalatku karena aku tahu betapa gelisahnya ibunya karena tangisan tersebut.” (HR. Bukhari no. 707)

Langkah kaki menuju masjid adalah perjuangan awal yang berat. Tugas seorang imam adalah memastikan, perjalanan yang berat itu diakhiri dengan ketenangan, kekhusyukan, dan kedamaian di dalam shalat—bukan dengan ujian fisik baru.

Meringankan bacaan shalat jamaah bukanlah bentuk pengurangan kualitas ibadah, melainkan wujud kepedulian dan peneladanan terhadap sunnah Rasulullah SAW. Membaca surat panjang memang bernilai pahala besar bagi individu, namun saat menjadi imam, menjaga kekhusyukan dan kenyamanan jamaah adalah prioritas yang lebih utama.

Membaca surat-surat pendek atau sedang yang umum dihafal/dipahami makmum jauh lebih membantu mereka menjaga fokus dan khusyuk selama shalat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *