Arab Saudi Ikut Operasi Militer AS di Irak, Konflik dengan Iran Kian Memanas

Tajuk.co, RIYADH – Arab Saudi untuk pertama kalinya terlibat langsung dalam operasi militer bersama Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Teheran. Keterlibatan tersebut menandai perubahan sikap Riyadh yang selama beberapa bulan terakhir berupaya menghindari terseret ke dalam konflik.

Pada Selasa (28/7/2026) waktu setempat, jet tempur Arab Saudi bersama pesawat militer AS melancarkan serangan ke wilayah Irak bagian timur yang menjadi basis kelompok milisi pro-Iran.

Operasi gabungan itu dilakukan setelah Arab Saudi dalam sepekan terakhir menghadapi serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak yang diklaim dilakukan kelompok Houthi di Yaman serta milisi sekutu Iran di Irak.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi tersebut merupakan respons atas lebih dari 30 serangan pesawat nirawak yang dituduhkan berasal dari jaringan yang didukung Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menegaskan negaranya tidak menginginkan eskalasi konflik. Namun, Riyadh menyatakan akan memberikan respons terhadap setiap ancaman yang mengganggu keamanan wilayahnya.

“Kerajaan menekankan bahwa pihaknya tidak mencari eskalasi tetapi akan menanggapi setiap agresi yang dihadapinya,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Saudi.

Sejumlah analis menilai keputusan Arab Saudi terlibat dalam operasi militer dipicu meningkatnya serangan terhadap infrastruktur strategis negara tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok milisi pro-Iran di Irak dilaporkan melancarkan serangan drone yang menyasar fasilitas penting di Arab Saudi.

Selain itu, kelompok Houthi juga menyerang kompleks minyak di Jazan, kawasan pesisir Laut Merah. Serangan tersebut disebut menyebabkan kerusakan pada salah satu fasilitas energi.

Analis Timur Tengah Mohammed Al Basha menilai serangan-serangan itu menjadi faktor yang mendorong Riyadh mengubah pendekatannya terhadap konflik.

Di sisi lain, Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir terus memperkuat kemampuan pertahanannya dengan membeli sistem pertahanan udara dan rudal modern serta meningkatkan teknologi anti-drone. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai keterlibatan langsung dalam konflik tetap berisiko memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Konflik yang semakin terbuka antara Arab Saudi, Amerika Serikat, Iran, dan kelompok-kelompok pro-Teheran dikhawatirkan dapat memperburuk stabilitas keamanan regional sekaligus berdampak terhadap jalur distribusi energi dan perdagangan internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *