BSMI Gelar Pelatihan Perawatan Luka di Mesir untuk Rawat Pasien Palestina

Tajuk.co, KAIRO — Ketua Majelis Permusyawaratan Anggota Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta, Prof. Dr. dr. Basuki Supartono, Sp.OT, FICS, MARS, berangkat ke Mesir untuk memberikan materi dan pelatihan dalam Workshop Advanced Technique Wound Healing.

Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Palestine Red Crescent Society (PRCS) cabang Mesir tersebut berlangsung pada 13–17 Agustus 2026 di Rumah Sakit Palestine Red Crescent Society, Kairo. Workshop diikuti oleh dokter-dokter dari Mesir dan Palestina.

Dalam kegiatan tersebut, rombongan BSMI terdiri dari Ketua Majelis Permusyawaratan Anggota BSMI Prof. Dr. dr. Basuki Supartono, Sp.OT, FICS, MARS, Sekretaris Jenderal BSMI Muhamad Rudi, serta Bendahara Umum DPN BSMI dr. Prita Kusumaningsih, Sp.OG.

Prof. Basuki mengatakan kegiatan ini memiliki arti penting karena Mesir menjadi salah satu tempat yang merawat banyak pasien dari Gaza, Palestina, termasuk pasien dengan kondisi luka yang membutuhkan penanganan khusus.

“Mesir merawat banyak pasien dari Gaza, Palestina. Karena itu, kemampuan menangani luka yang sulit sembuh menjadi sangat penting, terutama pada pasien dengan kondisi yang kompleks,” ujar Prof. Basuki.

Ia menjelaskan, proses penyembuhan luka pada pasien dapat menghadapi berbagai hambatan. Infeksi dan malnutrisi, misalnya, dapat menyebabkan proses inflamasi atau peradangan berlangsung lebih lama sehingga luka menjadi sulit mengalami penyembuhan.

Prof. Basuki mengatakan peserta diperkenalkan dengan pendekatan advanced wound healing yang menggunakan metode berbasis biologis untuk mendukung proses penyembuhan luka.

Menurut Prof. Basuki, salah satu pendekatan yang dibahas berkaitan dengan penggunaan komponen biologis, termasuk molekul sinyal dan sel yang digunakan dalam kelompok sel punca untuk mendukung proses regenerasi jaringan.

“Pada luka yang sulit sembuh, kita menghadapi berbagai faktor penghambat, mulai dari infeksi, malnutrisi hingga inflamasi yang berkepanjangan. Pendekatan biologis ini menjadi salah satu inovasi yang dapat membantu mengatasi persoalan tersebut,” jelasnya.

Selain aspek efektivitas, metode yang diperkenalkan dalam workshop juga memiliki keunggulan dari sisi penerapan. Penanganan dapat dilakukan secara lebih sederhana dan tidak selalu membutuhkan tindakan pembedahan.

Pergantian balutan yang dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan juga dapat membantu menghemat tenaga, waktu, serta penggunaan bahan dalam proses perawatan luka.

“Metodenya relatif simpel dan tidak membutuhkan pembedahan. Pergantian balutan juga cukup dilakukan seminggu sekali. Ini tentu dapat menghemat tenaga, waktu, dan bahan, terutama ketika diterapkan pada kondisi dengan keterbatasan sumber daya seperti di Gaza, Palestina,” kata Prof. Basuki.

Ia berharap transfer pengetahuan melalui workshop tersebut dapat memberikan tambahan kemampuan bagi dokter-dokter yang menangani pasien luka di Mesir dan Palestina.

Terlebih, kondisi bencana dan konflik dapat menghasilkan kasus luka yang kompleks serta membutuhkan metode penanganan yang efektif, efisien, dan dapat diterapkan dalam situasi dengan keterbatasan sumber daya.

“Ini merupakan inovasi yang penting untuk membantu menangani kasus-kasus luka yang sulit sembuh, termasuk dalam situasi bencana seperti yang dihadapi masyarakat Palestina,” pungkasnya.

Sekretaris Jenderal BSMI Muhamad Rudi mengatakan workshop tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan dan diperluas ke berbagai wilayah dan negara yang membutuhkan.

Menurut Rudi, peningkatan kapasitas tenaga medis dalam penanganan luka menjadi bagian penting dalam respons kemanusiaan, terutama ketika terjadi kondisi darurat, konflik, maupun bencana.

“Harapan kami, workshop seperti ini tidak berhenti di Mesir. Ke depan, kegiatan serupa dapat diperluas dan dilaksanakan di berbagai wilayah dan negara yang membutuhkan, khususnya untuk meningkatkan kemampuan penanganan luka dalam situasi darurat dan bencana,” ujar Muhamad Rudi.

Ia menambahkan, transfer pengetahuan dan pengalaman antarnegara dapat membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak pilihan metode dalam menangani pasien, terutama ketika bekerja dalam situasi dengan keterbatasan fasilitas dan sumber daya.

“BSMI berharap kerja sama seperti ini dapat terus berkembang melalui pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas tenaga medis, dan kolaborasi kemanusiaan, sehingga ilmu dan inovasi penanganan luka dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat yang terdampak konflik maupun bencana,” pungkas Rudi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *