Tajuk.co, Kupang — Penanganan awal pascagempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat dukungan anggaran sebesar Rp44 miliar. Dana tersebut disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak di sejumlah wilayah yang terdampak bencana.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan anggaran tersebut menjadi dukungan awal untuk penanganan kondisi darurat di daerah terdampak. Besaran bantuan selanjutnya dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.
Menurut Purbaya, pemerintah daerah dapat terlebih dahulu menggunakan anggaran yang telah tersedia untuk memenuhi kebutuhan penanganan. Apabila kebutuhan meningkat dan anggaran yang ada tidak mencukupi, dukungan pendanaan dapat kembali dievaluasi.
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan juga terus memantau kondisi keuangan daerah yang terdampak gempa. Pemantauan dilakukan agar kebutuhan pendanaan untuk penanganan bencana dapat dipenuhi sesuai perkembangan situasi.
Pada tahap awal, penanganan masih diarahkan pada masa tanggap darurat. Selain memastikan kebutuhan mendesak masyarakat terpenuhi, penghitungan kebutuhan untuk tahap perbaikan dan pemulihan wilayah terdampak juga mulai dilakukan.
Purbaya menjelaskan besaran dukungan lanjutan nantinya akan mempertimbangkan tingkat kerusakan serta kebutuhan masing-masing daerah. Koordinasi antarinstansi juga terus dilakukan untuk memastikan penanganan dapat berjalan secara efektif.
Distribusi bantuan menjadi salah satu perhatian utama dalam masa tanggap darurat. Bantuan berupa logistik maupun dukungan pendanaan diupayakan dapat tersalurkan dengan lancar kepada masyarakat yang terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan penanganan bencana di wilayah terdampak, bersama unsur terkait lainnya.
Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/8) sekitar pukul 05.58 WITA. Berdasarkan laporan hingga Selasa (18/8), bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 70 orang meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka.
BNPB juga mencatat sekitar 40.040 warga mengungsi, sementara 11.925 rumah mengalami kerusakan akibat gempa.
Besarnya dampak tersebut membuat kebutuhan penanganan tidak hanya berkaitan dengan fase tanggap darurat, tetapi juga mencakup proses pemulihan masyarakat serta perbaikan wilayah yang terdampak.










