Ketika Dunia Berubah, Masihkah Kita Mendidik Anak dengan Ukuran Masa Lalu?

Inspirasi dari Abu Syauqi tentang Mindset, Kewirausahaan, dan Masa Depan Generasi

Deni Trisnahadi atau biasa akrab disapa Abu Syauqi. Ia mengajak orang tua mengubah pola pendidikan anak agar siap menghadapi era AI, kewirausahaan, dan perubahan global.

Tajuk.co, JAKARTA – Suatu ketika, seorang ayah bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah pekerjaan yang selama ini dianggap aman benar-benar masih akan ada ketika anak saya dewasa nanti?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di tengah derasnya arus perkembangan teknologi, pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan.

Hari ini, kecerdasan buatan (AI), robotika, dan otomatisasi tidak lagi menjadi cerita dalam film fiksi ilmiah. Teknologi itu telah hadir di dalam kehidupan kita, mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan.

Bagi para pelaku usaha, perubahan ini membawa harapan. Teknologi membantu meningkatkan produktivitas, menekan biaya, dan mempercepat proses bisnis. Namun, bagi sebagian pekerja, kemajuan yang sama justru menghadirkan kecemasan. Banyak pekerjaan yang selama ini mengandalkan tenaga manusia mulai tergantikan oleh mesin dan sistem otomatis.

Di tengah perubahan besar itulah, Deni Triesnahadi, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Abu Syauqi, mengingatkan pentingnya perubahan cara pandang dalam mempersiapkan generasi masa depan.

Abu Syauqi bukan sosok asing dalam dunia filantropi dan kewirausahaan. Ia dikenal sebagai salah satu perintis Rumah Zakat serta aktif mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru di Indonesia.

Menurutnya, tantangan terbesar hari ini bukan sekadar mencari pekerjaan, melainkan mempersiapkan manusia agar mampu menciptakan peluang di tengah perubahan zaman.

“Kita tidak bisa lagi mendidik anak-anak untuk dunia yang sudah tidak ada. Dunia mereka berbeda dengan dunia kita,” ungkapnya.

Pendidikan Tidak Boleh Berhenti pada “Cari Kerja”

Selama puluhan tahun, banyak keluarga memegang rumus yang sama: sekolah yang rajin, kuliah setinggi mungkin, lalu mencari pekerjaan yang mapan. Padahal, realitas hari ini jauh lebih kompleks.

Setiap tahun, jutaan lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja dengan harapan yang sama. Sementara itu, pertumbuhan lapangan pekerjaan formal tidak selalu mampu mengimbangi pertumbuhan jumlah lulusan.

Akibatnya, persaingan menjadi semakin ketat. Abu Syauqi mengajak masyarakat untuk menggeser cara berpikir.

“Anak-anak kita jangan hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja. Mereka harus disiapkan menjadi pencipta solusi dan pembuka lapangan pekerjaan.”

Bukan berarti pendidikan formal tidak penting. Namun, pendidikan perlu dilengkapi dengan keterampilan baru: kreativitas, kemampuan beradaptasi, literasi digital, dan keberanian untuk berwirausaha.

Game Changer itu Bernama “Mindset”

Dalam berbagai kesempatan, Abu Syauqi berulang kali menekankan bahwa keberhasilan tidak semata ditentukan oleh modal finansial. Menurutnya, modal terbesar adalah mindset. Faktor inilah yang menjadi game changer yang bisa mengubah seseorang menjadi pebisnis sukses.

“Sembilan puluh lima persen keberhasilan bisnis ditentukan oleh mindset. Sisanya adalah keterampilan teknis (technical skill),” tegasnya.

Pernyataan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas, yaitu bagaimana cara berpikir seseorang sangat menentukan tindakan yang diambilnya.

Orang yang terbiasa melihat peluang akan bergerak berbeda dengan mereka yang hanya melihat hambatan. Orang yang berani belajar dari kegagalan akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dibanding mereka yang berhenti pada percobaan pertama.

Abu Syauqi tumbuh bukan dari keluarga konglomerat. Berbagai sumber menyebutkan bahwa jiwa usahanya telah muncul sejak usia muda. Ia mulai berdagang sejak masih sekolah dan membangun usaha secara bertahap.

Pengalaman itulah yang membentuk keyakinannya bahwa kesuksesan dapat dipelajari.

“Menjadi pengusaha bukan bakat bawaan. Itu ilmu yang bisa dipelajari, dilatih, dan dibiasakan.”

Hari ini, akses terhadap ilmu pengetahuan jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya.

Jika dahulu seseorang harus pergi ke luar negeri untuk belajar bisnis, kini ribuan materi tersedia melalui buku, video, dan platform digital. Tantangannya bukan lagi keterbatasan informasi. Tantangannya adalah kemauan untuk belajar.

Bonus Demografi: Peluang atau Bencana?

Indonesia sedang menikmati bonus demografi, yaitu kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif berada pada titik tertinggi. Bagi Abu Syauqi, kondisi ini ibarat pedang bermata dua.

“Bonus demografi bisa menjadi berkah. Tetapi tanpa persiapan, bonus itu dapat berubah menjadi beban.” Jika generasi muda hanya dipersiapkan untuk menjadi pencari kerja, sementara lapangan kerja semakin terbatas, maka masalah sosial akan semakin besar.

Sebaliknya, apabila generasi muda dibekali kemampuan berinovasi dan berwirausaha, bonus demografi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi bangsa. Bagi Abu Syauqi, bisnis bukan hanya tentang keuntungan. Bisnis adalah sarana untuk memberikan dampak yang lebih luas.

“Jangan hanya berpikir bagaimana memperkaya diri sendiri. Mulailah berpikir bagaimana memperkaya orang lain sambil memperkaya diri kita.”

Cara pandang inilah yang membedakan bisnis yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek dengan bisnis yang dibangun atas dasar misi.

Ketika misi sosial bertemu dengan semangat kewirausahaan, bisnis tidak hanya menciptakan laba, tetapi juga membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Mungkin, perubahan paling sulit justru terjadi pada generasi orang tua. Banyak orang tua masih mengukur kesuksesan dengan standar lama, yakni dengan ukuran menjadi pegawai tetap, bekerja di perusahaan besar, atau memperoleh jabatan tertentu.

Padahal, dunia anak-anak mereka akan berbeda. “Jangan memaksa anak hidup dengan peta yang dibuat untuk zaman kita. Tugas kita adalah membantu mereka membaca peta zamannya sendiri.”

Karena itu, orang tua perlu menjadi pembelajar. Bukan hanya mendorong anak untuk beradaptasi, tetapi juga bersedia mengubah cara pandang terhadap pendidikan, karier, dan kesuksesan.

Pada akhirnya, dunia memang akan terus berubah. Teknologi akan semakin canggih. Sebagian pekerjaan akan hilang. Sebagian lagi akan lahir dalam bentuk yang sama sekali baru.

Namun, satu hal tetap tidak berubah: manusia akan selalu membutuhkan keberanian untuk belajar. Mereka yang bertahan bukanlah yang paling kuat. Bukan pula yang paling pintar.

Melainkan mereka yang paling siap untuk bertumbuh. Sebagaimana disampaikan Abu Syauqi:

“Keyakinan, kemauan belajar, dan keberanian untuk mencoba adalah modal yang tidak pernah bisa digantikan oleh mesin.”

Maka, mungkin pertanyaan terpenting yang perlu kita renungkan hari ini bukan lagi:

“Anak kita nanti akan bekerja di mana?”

Melainkan “Sudahkah kita membekali mereka agar mampu menciptakan manfaat, apa pun perubahan yang terjadi di masa depan?”

Sebab, masa depan bukanlah sesuatu yang ditunggu. Masa depan adalah sesuatu yang dipersiapkan, dimulai dari hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *