Tajuk.co, JAKARTA — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mengungkap sejumlah alasan yang membuat sebagian pengemudi ojek online (ojol) masih enggan beralih menggunakan sepeda motor listrik.
Persoalan tersebut mencakup kendala teknis pada kendaraan hingga akses pembiayaan yang dinilai belum mudah bagi sebagian pengemudi. Hal ini menjadi perhatian dalam pengembangan proyek Motor Listrik Nasional (Molinas) yang turut melibatkan aplikator seperti Gojek dan Grab.
Managing Director Industrialization Danantara Indonesia Ardy Muawin mengatakan kekhawatiran mengenai performa motor listrik menjadi salah satu faktor yang sebelumnya membuat pengemudi ojol enggan beralih.
Beberapa persoalan yang banyak dikeluhkan antara lain kemampuan kendaraan ketika digunakan di jalan menanjak serta kapasitas baterai yang dianggap belum memadai untuk menunjang aktivitas pengemudi sepanjang hari.
Meski demikian, Ardy menyebut persoalan teknis tersebut mulai mendapatkan solusi dari para produsen motor listrik.
Selain persoalan kendaraan, akses pembiayaan juga menjadi hambatan penting. Berdasarkan informasi dari Grab, sejumlah mitra pengemudi mengalami kesulitan mendapatkan fasilitas kredit karena terkendala proses verifikasi melalui BI Checking atau Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.
Kondisi tersebut dinilai cukup disayangkan karena pengemudi yang memiliki performa baik dan aktif bekerja setiap hari sebenarnya memiliki tingkat risiko kredit yang relatif rendah.
Danantara melihat terdapat sejumlah skema yang dapat digunakan untuk menekan risiko pembiayaan. Salah satunya melalui sistem pembayaran cicilan harian yang disesuaikan dengan pola pendapatan pengemudi.
Selain itu, terdapat opsi penerapan sistem penonaktifan kendaraan secara otomatis apabila cicilan mengalami tunggakan.
“Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan men-stimulate demand dari sisi teman-teman konsumen,” ujar Ardy dalam diskusi bertajuk Navigating The Challenges of The Motor Vehicle Industry di Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026).
Persoalan pembiayaan juga dipengaruhi tingginya perbedaan suku bunga kredit kendaraan. Kredit sepeda motor disebut dapat dikenakan bunga sekitar 30 hingga 40 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kredit mobil yang berada di kisaran 12 persen.
Beban pembelian kendaraan semakin terasa karena skema kredit masih menjadi pilihan yang banyak didorong oleh diler untuk mengejar insentif penjualan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Danantara menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) guna merancang kembali skema pembiayaan motor listrik.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuat biaya kepemilikan motor listrik lebih terjangkau sehingga semakin banyak masyarakat, termasuk pengemudi ojol, memiliki akses terhadap kendaraan listrik.












