PT PAL Indonesia Kembali Ekspor Kapal Perang ke Filipina

Bukti Daya Saing Industri Pertahanan Nasional di Kancah Global

PT PAL Indonesia kembali membuktikan daya saing global melalui ekspor kapal perang Landing Dock ke Filipina, memperkuat industri pertahanan nasional dan kemitraan strategis kawasan Asia Tenggara berkelanjutan.

Tajuk.co, SURABAYA – PT PAL Indonesia (Persero) kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam industri pertahanan maritim dunia. Perusahaan galangan kapal milik negara itu resmi meluncurkan kapal perang jenis Landing Dock (LD)-603 atau Landing Platform Dock (LPD) pesanan Angkatan Laut Filipina dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Graving Dock Orca, Surabaya, Jawa Timur beberap waktu lalu.

Peluncuran kapal tersebut menjadi tonggak penting bagi industri pertahanan nasional sekaligus memperkuat hubungan strategis Indonesia dan Filipina di bidang pertahanan. LD-603 merupakan unit pertama dari dua kapal pendarat modern yang tengah dibangun PT PAL untuk memenuhi kebutuhan modernisasi armada Philippine Navy.

Acara peluncuran dihadiri Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod, Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina Letnan Jenderal Rommel P. Roldan, Flag Officer in Command Philippine Navy Vice Admiral Jose Ma Ambrosio Q. Ezpeleta, serta Panglima Komando Armada II TNI AL Laksamana Muda TNI I G.P. Alit Jaya beserta jajaran pejabat pertahanan kedua negara.

Peluncuran LD-603 menambah daftar keberhasilan PT PAL dalam menembus pasar ekspor kapal perang. Kepercayaan Filipina terhadap perusahaan pelat merah tersebut bukanlah kerja sama yang baru, melainkan kelanjutan hubungan strategis yang telah terjalin lebih dari satu dekade.

Sebelumnya, PT PAL berhasil membangun dua unit Strategic Sealift Vessel (SSV), sejumlah Landing Craft Utility (LCU), serta menyelesaikan proyek Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) kapal perang BRP Tarlac-601 dengan hasil yang mendapat penilaian “Very Satisfactory” dari Angkatan Laut Filipina.

Rekam jejak tersebut menjadi modal penting bagi PT PAL dalam memperluas pasar ekspor sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kapal perang berteknologi tinggi di kawasan Asia Tenggara.

PT PAL Gunakan Teknologi IM4

Kapal yang diberi nama BRP Ilocos Norte itu juga menjadi bukti keberhasilan transformasi digital PT PAL melalui penerapan konsep Industrial Maritime 4.0 (IM4). Dengan sistem produksi berbasis digital, integrasi proses manufaktur, efisiensi operasional, dan pengendalian mutu yang lebih baik, pembangunan struktur utama kapal berhasil diselesaikan hanya dalam waktu enam bulan.

Implementasi IM4 memungkinkan percepatan proses konstruksi tanpa mengurangi standar kualitas internasional yang menjadi syarat utama dalam proyek ekspor kapal perang. Setelah resmi diluncurkan ke laut, kapal akan memasuki tahap outfitting, Harbour Acceptance Test (HAT), dan Sea Acceptance Test (SAT) sebelum diserahkan kepada Philippine Navy pada tahun 2026.

Future Landing Dock Philippine merupakan generasi terbaru kapal angkut pendarat multifungsi yang dirancang untuk menjalankan berbagai misi strategis. Selain mendukung operasi amfibi, kapal ini mampu mengangkut personel, kendaraan tempur, logistik militer, hingga mendukung operasi keamanan maritim.

Tidak hanya itu, kapal juga dipersiapkan untuk menjalankan misi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR), termasuk penanggulangan bencana alam, evakuasi korban, dan distribusi bantuan kemanusiaan di wilayah kepulauan Filipina. Kemampuan multiguna tersebut membuat kapal LPD menjadi salah satu aset strategis yang dibutuhkan negara-negara dengan karakter geografis kepulauan.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan peluncuran LD-603 bukan sekadar keberhasilan proyek ekspor, tetapi juga menjadi simbol semakin eratnya kemitraan strategis Indonesia dan Filipina dalam memperkuat industri pertahanan kawasan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan kapal tersebut menunjukkan komitmen PT PAL dalam menjaga kepercayaan pelanggan internasional dengan menghadirkan produk berkualitas tinggi.

Ia mengakui proyek sempat menghadapi tantangan akibat dinamika geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok internasional. Namun, melalui pengelolaan produksi yang efektif, perusahaan mampu meminimalkan dampak terhadap jadwal penyelesaian proyek.

“Kami berkomitmen menjaga kepercayaan pelanggan dengan menghasilkan produk berkualitas tinggi sekaligus memastikan proyek dapat diselesaikan secara optimal meskipun menghadapi tantangan global,” ujar Kaharuddin.

Flag Officer in Command Philippine Navy, Vice Admiral Jose Ma Ambrosio Q. Ezpeleta, menyampaikan apresiasi atas profesionalisme PT PAL selama proses pembangunan kapal. Menurutnya, BRP Ilocos Norte akan meningkatkan kemampuan Angkatan Laut Filipina dalam mendistribusikan personel, kendaraan, perlengkapan militer, dan logistik ke berbagai wilayah kepulauan.

Selain memperkuat kemampuan operasi amfibi, kapal tersebut juga memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mendukung operasi keamanan maritim serta misi kemanusiaan ketika terjadi bencana.

Keberhasilan ekspor kapal perang ke Filipina menjadi indikator meningkatnya daya saing industri pertahanan Indonesia di tingkat internasional. Didukung penguasaan teknologi pembangunan kapal perang, fasilitas galangan modern, implementasi Industrial Maritime 4.0, serta pengembangan sumber daya manusia melalui transfer teknologi berkelanjutan, PT PAL terus memperkuat kapasitas industri maritim nasional.

Pencapaian ini sekaligus membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor alutsista, memperkuat diplomasi pertahanan, serta menjadikan industri pertahanan sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *