Tajuk.co, JAKARTA – Juni biasanya identik dengan inflasi yang relatif jinak. Namun, pola tersebut berubah pada 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi bulanan pada Juni mencapai 0,44 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar 0,19 persen. Secara tahunan (year on year), inflasi juga meningkat menjadi 3,34 persen, naik dari 3,08 persen pada Mei 2026.
Di balik lonjakan tersebut, terdapat satu faktor yang paling dominan: kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, terutama Pertamax. Dampaknya tidak hanya tercermin pada sektor transportasi, tetapi juga mulai merembet ke biaya hidup masyarakat, terutama kelompok kelas menengah.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai inflasi Juni tahun ini berbeda dibandingkan pola musiman yang selama ini terjadi.
Menurutnya, kenaikan harga Pertamax menjadi penyebab utama melonjaknya inflasi transportasi yang mencapai 2,29 persen secara bulanan, dengan kontribusi terhadap inflasi nasional sebesar 0,28 persen.
“Bulan Juni biasanya inflasinya relatif rendah. Tahun lalu hanya sekitar 0,19 persen. Tahun ini melonjak menjadi 0,44 persen, terutama karena kenaikan harga Pertamax,” ujarnya.
Data BPS memperlihatkan bahwa dari seluruh komponen transportasi, bensin memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,21 persen, disusul tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen, serta pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen. Selama ini Pertamax sering dianggap hanya dikonsumsi sebagian kecil masyarakat sehingga dampaknya terhadap inflasi dinilai terbatas. Namun, pandangan tersebut mulai bergeser.
Faisal menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir konsumsi Pertamax meningkat signifikan seiring kebijakan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar. Saat ini, konsumsi Pertamax telah mencapai sekitar 27 persen dari total konsumsi bensin nasional. Sebagai perbandingan, Pertalite masih mendominasi sekitar 66 persen, tetapi pangsa Pertamax terus tumbuh.
“Dua hingga tiga tahun lalu pangsa konsumsi Pertamax masih sekitar 14 persen. Kini meningkat menjadi sekitar 27 persen,” katanya.
Lonjakan konsumsi tersebut membuat kenaikan harga Pertamax memiliki dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Faktor lain yang memperbesar tekanan inflasi adalah besarnya penyesuaian harga Pertamax dalam satu kali kebijakan. Harga Pertamax melonjak dari kisaran Rp12 ribuan menjadi sekitar Rp16 ribuan per liter, atau naik hampir Rp4.000 per liter.
Menurut Faisal, kenaikan sebesar itu tergolong tidak biasa. Dalam kondisi normal, penyesuaian harga BBM nonsubsidi umumnya dilakukan secara bertahap. Ketika kenaikan terjadi sekaligus dalam nominal besar, dampaknya langsung terasa terhadap pengeluaran rumah tangga, khususnya masyarakat kelas menengah yang bergantung pada Pertamax untuk mobilitas sehari-hari.
Kelas Menengah Paling Tertekan
Kelompok yang paling merasakan tekanan inflasi kali ini adalah kelas menengah. Sebagian masyarakat mencoba beralih menggunakan Pertalite untuk menekan pengeluaran. Namun, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi membuat tidak semua konsumen dapat melakukan perpindahan tersebut.
Akibatnya, banyak rumah tangga harus menerima kenaikan biaya transportasi tanpa memiliki alternatif yang memadai. Menurut Faisal, kondisi tersebut semakin berat karena pendapatan masyarakat relatif stagnan, sementara biaya hidup terus meningkat.
Ia mengingatkan bahwa jumlah kelas menengah Indonesia telah mengalami penyusutan sekitar 9,5 juta orang dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. Bersamaan dengan itu, konsumsi rumah tangga kelompok ini juga terus melemah.
“Kenaikan beban hidup tidak diikuti peningkatan pendapatan. Akibatnya daya beli masyarakat semakin tertekan,” ujarnya.
Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang inflasi dengan kenaikan 0,20 persen dan memberikan andil 0,06 persen terhadap inflasi umum. Menurut Faisal, kenaikan harga BBM nonsubsidi memang tidak secara langsung memengaruhi seluruh rantai distribusi pangan seperti halnya Pertalite atau Solar. Namun, terdapat efek psikologis yang mendorong pelaku pasar menyesuaikan harga berbagai komoditas.
Di sisi lain, Juni memang merupakan periode ketika pasokan sejumlah bahan pangan mulai menurun setelah musim panen raya berakhir. Produksi beras memasuki fase transisi sebelum panen berikutnya sehingga stok mulai menipis. Kondisi tersebut secara historis memang kerap mendorong kenaikan harga beras dan sejumlah komoditas pangan lainnya.
Keluhan masyarakat terhadap naiknya harga bawang merah, beras, serta kebutuhan dapur lainnya menjadi cerminan bahwa tekanan inflasi mulai dirasakan dalam aktivitas konsumsi sehari-hari.
Momentum libur sekolah juga memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi Juni. Permintaan perjalanan udara meningkat sehingga tarif angkutan udara ikut melonjak. Meski kontribusinya lebih kecil dibandingkan kenaikan harga bensin, faktor musiman ini tetap memperbesar inflasi sektor transportasi.
Kombinasi kenaikan harga BBM, tiket pesawat, serta meningkatnya harga bahan pangan membuat biaya hidup rumah tangga mengalami tekanan pada saat yang bersamaan. Kenaikan inflasi Juni 2026 menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya mereda.
Bagi pemerintah, tantangan ke depan bukan sekadar menjaga stabilitas harga, tetapi juga memastikan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, tidak semakin melemah. Jika kenaikan biaya hidup terus berlangsung sementara pertumbuhan pendapatan bergerak lambat, konsumsi rumah tangga—yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia—berpotensi mengalami perlambatan.
Dalam situasi tersebut, pengendalian inflasi tidak hanya menjadi agenda stabilitas harga, melainkan juga bagian penting dari upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.












