Jebolnya Benteng Azteca

Pasukan The Three Lions berhsil menjebol Stadion Azteca. Foto: wikipedia

Tajuk.co – Stadion Azteca selama puluhan tahun menjadi simbol keperkasaan sepak bola Meksiko. Bermain di ketinggian lebih dari 2.200 meter di atas permukaan laut, didukung puluhan ribu suporter fanatik, serta memiliki sejarah panjang sebagai arena dua final Piala Dunia, stadion ini selalu menghadirkan tekanan besar bagi setiap lawan.

Namun, pada babak 16 besar Piala Dunia 2026, benteng itu akhirnya runtuh runtuh dicabik TheThree Lions, Inggris.

Meski bermain dengan 10 orang sejak menit 54, setelah Jarell Quansah menerima kartu merah, pasukan Thomas Tuchel berhasil menaklukkan Meksiko dengan skor 3-2 dalam laga dramatis.

Meski unggul jumlah pemain selama lebih dari setengah jam, Meksiko gagal memanfaatkan momentum untuk menyamakan kedudukan.

Rekor 10 Pertandingan Pecah

Kekalahan tersebut memiliki makna lebih besar dibanding sekadar tersingkir dari Piala Dunia.

Sebelum menghadapi Inggris, Meksiko tercatat tidak pernah kalah dalam 10 pertandingan Piala Dunia yang dimainkan di Stadion Azteca. Rekor itu mencakup pertandingan sejak era 1970, 1986 hingga laga-laga Piala Dunia 2026 di kandang sendiri. Azteca selama ini dikenal sebagai benteng yang hampir mustahil ditembus tim tamu.

Bahkan Inggris datang dengan tantangan tersendiri. Pelatih Thomas Tuchel mengakui sejak sebelum pertandingan bahwa adaptasi terhadap ketinggian Mexico City menjadi persoalan utama timnya. Ia menyebut para pemain mengalami gangguan tidur dan efek tipisnya oksigen selama persiapan pertandingan.

Namun semua keuntungan geografis itu akhirnya tidak cukup menghentikan efektivitas Inggris.

Dua Menit yang Mengubah Laga

Analisis pertandingan menunjukkan bahwa Meksiko sebenarnya memulai pertandingan dengan agresif. Didukung lebih dari 80.000 penonton, El Tri menekan sejak menit awal. Namun justru Inggris yang lebih efisien.

Dalam rentang hanya dua menit, Jude Bellingham mencetak dua gol yang mengubah arah pertandingan. Ketika Julián Quiñones memperkecil skor menjadi 1-2 menjelang turun minum, harapan publik Azteca kembali hidup.

Momentum terbesar datang pada menit ke-54 saat Quansah diusir wasit. Inggris harus bermain dengan 10 orang.

Namun alih-alih memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, Meksiko kembali kebobolan melalui penalti Harry Kane. Penalti Raúl Jiménez memang membuat skor menjadi 2-3, tetapi hingga peluit panjang dibunyikan Inggris mampu bertahan dengan disiplin tinggi. Jordan Pickford beberapa kali melakukan penyelamatan krusial yang menggagalkan peluang tuan rumah.

Kesalahan Kecil Dibayar Mahal

Pelatih Javier Aguirre tidak menutupi penyebab kekalahan timnya. Menurutnya, pertandingan ditentukan oleh kesalahan-kesalahan kecil yang langsung dihukum oleh Inggris.

“Anda tidak boleh membuat kesalahan karena mereka akan menghukum Anda. Kami melakukan beberapa kesalahan dan itu sangat menyedihkan bagi rakyat Meksiko,” katanya seperti dikutip Reuters.

Pernyataan Aguirre itu menggambarkan perbedaan kualitas kedua tim. Inggris tidak mendominasi penguasaan bola pada babak kedua, tetapi mereka sangat efisien dalam memanfaatkan peluang yang muncul. Sebaliknya, Meksiko lebih banyak menguasai permainan setelah unggul jumlah pemain, tetapi kesulitan menembus organisasi pertahanan Inggris.

Reaksi Media Meksiko: Bukan Marah, tetapi Patah Hati

Berbeda dengan reaksi keras yang sering muncul setelah kegagalan tim nasional, banyak media dan pengamat di Meksiko memilih nada yang lebih reflektif.

El País edisi Meksiko menggambarkan, kekalahan ini sebagai momen ketika “Inggris akhirnya membungkam pesta Meksiko” (“Y, al final, Inglaterra silenció la fiesta mexicana”). Meski demikian, media tersebut menilai publik tetap mengapresiasi perjuangan El Tri karena mampu membangkitkan harapan nasional yang sudah lama hilang.

Sementara itu, liputan Reuters dari Mexico City menggambarkan suasana yang berubah drastis hanya dalam hitungan menit. Jalan-jalan yang sebelumnya dipenuhi optimisme mendadak sunyi. Ribuan suporter meninggalkan stadion dengan mata berkaca-kaca. Namun di tengah kesedihan itu masih terdengar ungkapan, tim nasional telah “membuat rakyat kembali merasakan sesuatu yang sudah lama hilang”—sebuah kebanggaan dan persatuan nasional.

Tema yang muncul di berbagai media Meksiko bukanlah kemarahan terhadap tim, melainkan rasa kehilangan karena impian yang terasa begitu dekat akhirnya pupus.

 Benteng yang Akhirnya Jebol

Selama puluhan tahun Azteca dikenal sebagai salah satu stadion paling angker di dunia. Faktor ketinggian, atmosfer suporter, dan sejarah panjang membuat banyak negara besar kesulitan meraih kemenangan di sana.

Inggris kini mencatat sejarah sebagai tim pertama yang mengalahkan Meksiko di Stadion Azteca dalam pertandingan Piala Dunia, sekaligus mengakhiri rekor 10 laga tanpa kekalahan tuan rumah di stadion tersebut.

Bagi Meksiko, hasil 2-3 ini bukan hanya berarti gagal melangkah ke perempat final. Kekalahan tersebut mengakhiri aura “tak terkalahkan” Azteca di Piala Dunia dan memutus keyakinan bahwa bermain di kandang sendiri akan selalu menjadi pembeda.

Pada saat yang sama, perjalanan El Tri juga menunjukkan kemajuan setelah mampu mencapai fase gugur dengan pertahanan solid dan membangkitkan antusiasme publik yang sudah lama menanti prestasi di panggung dunia.

Kini, tantangan berikutnya bagi sepak bola Meksiko bukan sekadar membangun kembali rekor kandang, tetapi membuktikan bahwa semangat yang kembali tumbuh selama Piala Dunia 2026 dapat menjadi fondasi untuk bersaing secara konsisten di level tertinggi sepak bola internasional.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *