Tajuk.co, JAKARTA – Pernyataan tajam dilontarkan Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN), Sudirman Said, saat berbicara di hadapan peserta Bimbingan Teknis (BIMTEK) Anggota DPRD PKS se-Kalimantan di Jakarta, Sabtu (13/6/2026). Ia mengingatkan bahaya ketika sebuah negara terlalu bergantung pada sosok pemimpin tertentu.
Dengan nada tegas, Sudirman menyampaikan pesan yang langsung menyita perhatian peserta.
“Jangan bersandar pada godfather, bersandarlah pada God,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar permainan kata. Sudirman menggunakannya sebagai kritik terhadap fenomena personifikasi kekuasaan, yakni ketika loyalitas terhadap figur lebih diutamakan dibandingkan kepatuhan terhadap nilai, aturan, dan institusi negara.
Sudirman menjelaskan bahwa istilah godfather yang ia gunakan merujuk pada sosok yang memusatkan pengaruh dan kekuasaan pada dirinya sendiri. Dalam sejarah, banyak figur yang pernah tampak tak tergantikan, namun akhirnya hanya menjadi catatan masa lalu.
Ia menyebut nama-nama seperti Pablo Escobar, Al Capone, tokoh fiksi Don Corleone, hingga Adolf Hitler sebagai contoh bahwa dominasi individu tidak pernah abadi.
“Para godfather memudar, sementara tatanan yang baik justru menetap. Karena itu kesetiaan kita semestinya pada nilai yang abadi, bukan pada figur yang fana,” kata Sudirman.
Menurutnya, bangsa yang kuat adalah bangsa yang dibangun di atas sistem yang sehat, bukan pada ketokohan seseorang.
Dalam paparannya, Sudirman juga menyoroti kecenderungan politik modern yang dinilai terlalu berorientasi pada kemenangan elektoral jangka pendek.
Mengutip ekonom Dambisa Moyo dalam buku Edge of Chaos, ia mengatakan banyak politisi saat ini lebih sibuk memikirkan strategi memenangkan pemilu dibanding memastikan keberlanjutan pembangunan negara.
Akibatnya, muncul praktik politik yang miskin gagasan besar dan hanya mengejar popularitas.
“Di ruang yang miskin gagasan jangka panjang itulah sosok menggantikan sistem, dan loyalitas personal menggeser akuntabilitas publik,” ujarnya.
Fenomena tersebut, menurut Sudirman, menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kultus individu dalam kehidupan politik.
Sudirman juga mengulas soal kualitas kepemimpinan dari perspektif etika. Mengacu pada konsep Paul Webley, ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin ideal harus terus meningkatkan standar moralnya.
Ia menyebut masih banyak penguasa yang merasa cukup selama tindakannya tidak bertentangan dengan aturan hukum.
Padahal, menurutnya, kepemimpinan sejati menuntut lebih dari sekadar kepatuhan administratif.
“Banyak penguasa berhenti di lantai legalistik. Padahal kepemimpinan sejati menuntut kita terus mendaki sampai setia pada kebaikan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sudirman menekankan pentingnya spiritualitas sebagai fondasi etika dalam bernegara. Namun, ia mengingatkan bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti pada simbol dan pencitraan.
Ia mengajak para pemimpin untuk menghindari kebiasaan mempertontonkan kesalehan, menjaga keselarasan antara perkataan dan tindakan, serta mengutamakan kepentingan rakyat.
Pernyataan yang paling menyita perhatian pun kembali terlontar.
“Spiritualitas itu garam, bukan gincu. Ia tidak terlihat, tetapi terasa. Pemimpin yang berspiritualitas bekerja dalam diam, bukan memanggungkan kesalehan,” katanya.
Sementara itu, Yanuar Nugroho mengingatkan bahwa personifikasi kekuasaan dapat berdampak serius terhadap kualitas tata kelola pemerintahan.
Ia menilai salah satu gejala yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan resentralisasi, yaitu penumpukan kembali kewenangan di pemerintah pusat.
“Gejala resentralisasi harus dihentikan karena melawan prinsip-prinsip otonomi daerah,” ujarnya.
Yanuar mendorong para kepala daerah dan anggota DPRD untuk memperkuat semangat otonomi daerah demi menjaga keseimbangan kekuasaan.
“Indonesia terlalu besar kalau dipaksakan diurus secara sentralistik,” tegasnya.
Menutup paparannya, Sudirman Said kembali mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan tidak ada figur yang mampu bertahan selamanya. Yang akan tetap hidup adalah nilai, sistem, dan institusi yang dibangun dengan baik.
“Godfather membangun kultus, pemimpin sejati membangun tatanan. Bersandarlah pada God, pada nilai dan institusi yang abadi, bukan pada godfather yang, sekuat apa pun hari ini, pasti akan berlalu,” pungkasnya.










