Suku Dinas KPKP Jaktim Gencarkan Urban Farming di Sekolah

Urban Farming di sekolah. Foto: IST

Tajuk.co JAKARTA — Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur menggalakkan program urban farming di lingkungan sekolah sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan menanamkan budaya bercocok tanam sejak usia dini.

Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Timur, Taufik Yulianto menjelaskan, sekolah memiliki potensi besar dalam mendukung program ketahanan pangan karena umumnya memiliki ketersediaan lahan dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

“Program urban farming di sekolah sangat tepat untuk mendukung ketahanan pangan mandiri. Selain itu, peserta didik juga dapat belajar mengenai pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan yang tersedia di lingkungan sekolah,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).Taufik menjelaskan, program tersebut tidak hanya menghasilkan tanaman pangan, tetapi juga memberikan manfaat edukatif bagi peserta didik.

“Melalui kegiatan menanam hingga memanen, peserta didik diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan, mengenal berbagai jenis tanaman, serta membangun kemandirian pangan sejak dini,” terangnya.

Menurutnya, saat ini hampir seluruh sekolah di Jakarta Timur sudah memiliki program urban farming. Bagi sekolah yang memiliki keterbatasan lahan, Suku Dinas KPKP mendorong pemanfaatan metode hidroponik dan siap memberikan pelatihan kepada para guru maupun murid.

“Kami akan terus mengajak sekolah meningkatkan kegiatan urban farming. Jika lahannya terbatas, bisa disiasati dengan sistem hidroponik dan kami siap memberikan pelatihan bercocok tanam,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SDN Kramat Jati 01, Abdy Hudry menambahkan, program urban farming di sekolahnya terus dikembangkan dengan melibatkan peserta didik secara langsung dalam setiap proses, mulai dari penanaman hingga panen.

“Setiap menanam dan memanen peserta didik selalu kami libatkan. Sehingga mereka dapat mengenal berbagai jenis tanaman yang ada di lingkungan sekolah,” ucapnya.

Ia memaparkan, kebun sekolah ditanami beragam tanaman obat keluarga (TOGA) seperti sereh, kunyit, jahe merah, lidah buaya, bunga telang, kencur, kenikir, dan sirih.

Selain itu, terdapat pula berbagai tanaman hortikultura seperti cabai, tekokak, labu parang, dan pandan. Kemudian, aneka tanaman buah markisa, belimbing, mangga, jambu air, jeruk limau, pisang kepok, pisang tanduk, singkong, ubi jalar, hingga pohon salam.

“Melalui program ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar di dalam kelas, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran praktik yang membentuk kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan perkotaan,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *