Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-China Tewaskan 168 Orang, Lebih dari 1.300 Hilang

Perbatasan Nepal_China dilanda banjir bandang. Foto: anadolu

Tajuk.co KATHMANDU – Sedikitnya 168 orang tewas dan lebih dari 1.300 lainnya masih hilang akibat banjir bandang di wilayah perbatasan Nepal-China.  Operasi pencarian dilakukan dengan dukungan helikopter dan drone

Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal mengonfirmasikan, 165 korban tewas dan mengatakan 826 orang masih hilang, termasuk wisatawan, warga negara asing, pejabat sipil, tentara, polisi, dan warga setempat.

Wisatawan yang dilaporkan hilang mencakup 300 orang dari India, 54 dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris, 17 dari Malaysia, dan delapan dari Korea Selatan.

Sementara itu, otoritas China mengonfirmasi tiga orang tewas dan 558 lainnya masih hilang.

Berdasarkan citra satelit, banjir diduga dipicu oleh pecahnya bongkahan es besar dari gletser Himalaya sekitar 20 kilometer timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi. Runtuhan tersebut membawa berton-ton es dan batu ke Sungai Bhotekoshi di bawahnya.

Pemerintah Nepal mengatakan, warga yang mengungsi tengah direlokasi, sementara tentara dan operator helikopter swasta dikerahkan untuk operasi pencarian dan penyelamatan.

Tentara Nepal dan operator helikopter swasta telah mengevakuasi 114 orang ke tempat aman.

Distrik Chitwan di Provinsi Bagmati mencatat jumlah korban tewas tertinggi dengan 64 orang, disusul Dhading sebanyak 27 orang dan Nawalparasi East sebanyak 22 orang. Kepolisian Nepal mengatakan 28 anggotanya juga masih dinyatakan hilang.

Berdasarkan laporan awal, banjir menghancurkan 19 jembatan dan sekitar 40 kilometer ruas jalan utama, memutus jalur transportasi dan mempersulit operasi penyelamatan.

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal mengatakan, banjir menyebabkan “kerusakan ekstrem” di sejumlah distrik dan mengingatkan bahwa informasi yang tersedia masih bersifat awal.

Ia menyerukan peningkatan kewaspadaan di sepanjang bantaran Sungai Bhotekoshi dan Trishuli di distrik Nuwakot, Dhading, Gorkha, dan Chitwan karena risiko masih tinggi.

Hampir 300 warga India termasuk yang hilang

Secara terpisah, Khanal mengatakan kepada penyiar India NDTV bahwa “hampir 300 warga India dilaporkan hilang dan pemerintah sedang berupaya menjalin kontak dengan mereka.”

Ia mengatakan, warga negara asing, termasuk warga India, menggunakan jalur di daerah terdampak untuk melakukan Masarovar Yatra, ziarah suci bagi umat Hindu.

Pemerintah menetapkan Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading sebagai “wilayah krisis bencana” selama tiga bulan.

Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana meminta operator helikopter dan drone berkoordinasi dengan pemerintah distrik, lembaga keamanan, dan pemerintah daerah dalam operasi penyelamatan.

Warga yang terjebak juga diminta menyalakan api dan menghasilkan asap untuk menandai lokasi mereka.

India, China, dan Bank Dunia telah bergerak untuk mengoordinasikan bantuan keuangan bagi operasi penyelamatan, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi di wilayah terdampak banjir, menurut Kementerian Keuangan Nepal.

Menteri Luar Negeri India mengatakan pada Kamis pagi bahwa New Delhi telah mengirim pesawat kedua yang membawa 37,5 ton bantuan kemanusiaan dan bahan penanggulangan bencana, obat-obatan, dan paket makanan untuk Nepal.

Tiga tewas, 558 hilang di Tibet

Sedikitnya tiga orang tewas dan 558 lainnya masih hilang di Kabupaten Gyirong, China, akibat bencana longsor lumpur, menurut laporan media pemerintah China.

Longsor lumpur melanda Pelabuhan Gyirong di Daerah Otonomi Xizang, yang umum dikenal sebagai Tibet, menurut kantor berita Xinhua pada Kamis.

Sebuah kelompok pengarahan dari Tentara Pembebasan Rakyat China dikirim ke wilayah terdampak untuk mengoordinasikan operasi penyelamatan bersama oleh personel militer.

Perlintasan perbatasan Gyirong merupakan jalur utama bagi wisatawan dan lalu lintas antara China dan Nepal.

State Grid Xizang Electric Power Company Limited tengah menyiapkan pasokan listrik darurat di Kota Gyirong, menurut laporan tersebut.

Kementerian Manajemen Darurat China dan Administrasi Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Nasional juga mengirim lebih dari 100 petugas pemadam dan personel penyelamat ke wilayah bencana.

Pesawat carter pertama yang membawa tim penyelamat tiba di bandara di Kota Xigaze pada Kamis pagi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *