Oleh Dr.Hj.Kurniasih Mufidayati, M.Si
Ketua DPP PKS Bidang Pendidikan dan Kesehatan / Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS
Indonesia memiliki cita-cita besar dalam menyambut HUT Kemerdekaannya yang ke-100 pada tahun 2045 nanti yaitu Generasi Emas Indonesia 2045 dengan visi menjadikan Indonesia negara maju dan berdaulat. Bonus demografi yang sedang berlangsung saat ini dan mencapai puncaknya di 2045 (dengan 70% penduduk berada pada usia produktif) diharapkan dapat dikelola melalui peningkatan kualitas SDM, pendidikan, dan karakter, sehingga akan membawa Indonesia menjadi 5 kekuatan ekonomi terbesar dunia. Peningkatan kualitas SDM difokuskan untuk mencetak generasi yang cerdas, sehat, inovatif, dan berkarakter kuat untuk menjawab tantangan zaman.
Bonus demografi yang sedang dialami Indoesia saat ini hingga 2045 adalah kesempatan emas untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Bonus demografi juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk bertransformasi dari negara berkembang menjadi negara maju, berdaulat, dan berkelanjutan. Namun bonus demografi ini seperti pisau bermata dua. Jika diikuti dengan penyiapan sumberdaya manusia (SDM) yang baik (pendidikan, kesehatan, pengembangan kreatifitas), iklim investasi yang kondusif dan kebijakan pembangunan yang tepat, ia akan menghasilan kemajuan bagi bangsa. Namun sebaliknya jika tidak didukung dengan kesiapan SDM, investasi masuk rendah akibat iklim investasi yang buruk serta lapangan kerja yang minim, membuat bonus demografi bisa berubah menjadi bencana demografi akibat usia produktif yang berlimpah namun justru menjadi beban ekonomi karena tidak bekerja.
Kualitas SDM sebagai Tantangan Utama Bonus Demografi
Tantangan utama dari memanfaatkan bonus demografi untuk mewujudkan generasi emas adalah kemampuan untuk meningkatkan kualitas SDM sehingga menghasilkan SDM Indonesia yang unggul dan berdaya saing. Sehingga Indonesia bisa keluar dari dari middle income trap (pertumbuhan ekonomi tinggi dan inovasi yang berkelanjutan) serta memperbaiki infrastruktur dan tata kelola pemerintahan. Peningkatan kualitas SDM dan kemampuan mengembangkan inovasi diperlukan agar Indonesia tidak lagi terlalu mengandalkan sumberdaya alam dan bisa mengatasi tantangan sosial ekonomi akibat dinamika global yang terjadi.
Setidaknya ada empat tantangan fundamental yang dihadapi sebuah bangsa untuk bisa berkembang menjadi bangsa yang besar. Pertama adalah peningkatan kualitas SDM mengingat kualitas SDM ini berkaitan dengan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang sehat. Suatu bangsa tidak akan bisa mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi yang sehat dan memanfaatkan potensi ekonomi yang dimilikinya jika tidak memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik. Data International Labor Organization (ILO) tahun 2023 menunjukkan produktivitas Indonesia masih berada di peringkat 5 dari 10 negara ASEAN. Setiap tenaga kerja di Indonesia menghasilkan nilai tambah sekitar USD 26.328 atau sekitar Rp89,3 juta per tahun. Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan negara maju di kawasan ini seperti Singapura.
Kedua adalah kualitas infrastruktur untuk mendukung kegiatan ekonomi dan pelaku usaha. Pada pemeringkatan daya saing infrastruktur umum (seperti IMD), Indonesia berada di peringkat ke-57 dunia. Sebaliknya, untuk infrastruktur mutu yang berfokus pada standardisasi dan sertifikasi, Indonesia menempati peringkat ke-23 dunia dan menjadi yang terdepan di ASEAN.
Ketiga adalah transformasi ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Suatu bangsa sulit untuk tumbuh jika sangat tergantung pada sumber daya alam bahan mentah. Keempat adalah kualitas kelembagaan termasuk tata kelola pemerintahan dan regulasi birokrasi karena kelembagaan dan birokrasi menjadi salah satu aspek paling penting dalam membangun dan mencapai Indonesia Emas 2045.
Dalam konteks pembangunan SDM, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang cukup berat untuk bisa memanfaatkan bonus demografi. Kita masih bergelut dengan persoalan stunting dimana prevalensi stunting kita masih di angka 19,8%. Meskipoun untuk pertama kalinya angka stunting kita dibawah 20%, namun angka ini masih jauh dari target dalam RPJMN sebesar 14%. Belum lagi persoalan kesehatan yang mulai muncul di anak dan remaja seperti anemia dan obesitas akibat pola konsumsi yang tinggi gula dan lemak serta prilaku merokok di usia muda. Data WHO menunjukkan jumlah remaja (usia 13-15) pengguna produk tembakau berkurang dari, namun jumlah remaja yang menghisap rokok meningkat. Anak-anak dan generasi muda kita juga dibayangi dengan masalah kesehatan mental dan kecanduan gawai yang berpotensi menghambat pengembagan potensinya. Data UNICEF 2024 menunjukkan 2% remaja usia 15-24 tahun mengalami depresi dan 61% dari mereka pernah berpikir untuk melakukan bunuh diri
Di bidang pendidikan, kita juga menghadapi tantangan dalam bentuk angka putus sekolah yang masih cukup tinggi, kesenjangan kualitas antar wilayah, infrastruktur pendidikan yang belum merata dan kompetensi guru yang juga belum merata. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan terdapat sekitar 2,9 hingga 4,1 juta Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia. Secara tren, angka drop out telah dilaporkan turun sekitar , namun tantangan putus sekolah masih tinggi, terutama di daerah pedesaan dan jenjang pendidikan menengah. Data susenas BPS mencatat sekitar 2,9 juta hingga 3,9 juta anak usia 7-18 tahun tidak bersekolah atau putus sekolah Belum lagi persoalan kenakalan remaja yang semakin mengkhawatirkan di era digital.
Oleh karena itu pemerintah terus berupaya untuk mengatasi berbagai persoalan ini melalui program bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP), revitalisasi bangunan sekolah, peningkatan angka partisipasi sekolah dan berbagai upaya peningkatan kualitas dan kompetensi guru. Dalam 3 tahun terakhir, pemerintah telah menyalurkan bantuan PIP kepada 17,9 juta sampai 18,6 juta siswa setiap tahunnya untuk seluruh jenjang pendidikan. Sementara penerima KIP Kuliah mencapai 1,05 juta pada tahun 2025 dari sebelumnya 985 ribu pada 2024. Sebanyak 16.175 satuan pendidikan, juga telah dilakukan revitalisasi bangunan pada tahun 2025.
Membangun Keluarga Cerdas, Sehat dan Berkarakter
Satu hal yang sering dilupakan dalam pembangunan kualitas SDM adalah peran keluarga dalam menyiapkan generasi unggul. Keluarga merupakan tempat tumbuh dan berkembang pertama kalinya bagi seorang anak. Karakter anak biasanya mulai terbentuk dari kebiasaan atau pola asuh yang dilakukan orang tua selama masa anak-anak hingga remaja. Dalam konteks pendidikan, keluarga menjadi kunci dalam mencapai tujuan pendidikan menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri. Dalam konteks kesehatan, keluarga adalah fondasi utama dalam membentuk generasi sehat. Peran ini diwujudkan melalui penanaman pola hidup bersih, pemenuhan gizi seimbang, pembangunan ketahanan mental, dan penciptaan lingkungan rumah yang aman serta suportif bagi tumbuh kembang anak.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai salah satu komponen bangsa dalam wujud Partai Politik menyadari betul pentingnya peran keluarga dalam membentuk SDM unggul yang dibutuhkan dalam mengoptimalkan bonus demografi. Keluarga merupakan unit terkecil sekaligus fondasi utama dalam membangun masyarakat yang kuat dan berdaya. Kualitas bangsa pada hakikatnya sangat ditentukan oleh kualitas keluarga. Sehingga PKS juga menjadikan keluarga sebagai salah satu poros penting dalam penyiapan generasi unggul denan berupaya mewujudkan keluarga cerdas, sehat dan berkarakter. PKS mengajak seluruh kader, konstituen dan masyarakat untuk mewujudkan Keluarga Cerdas, sehat dan berkarakter. PKS juga sejak tahun 2020 telah memiliki program Rumah Keluarga Indonesia (RKI) sebagai sebuah program pembinaan dan pemberdayaan yang salah satu fokusnya adalah pada pendidikan anak dan ketahanan keluarga.
Keluarga cerdas menekankan pada keluarga yang menjadikan ilmu, literasi, dan pendidikan sebagai budaya hidup melalui adanya budaya membaca (literasi) di rumah, peran aktif orang tua sebagai pendidik utama bagi anak, serta kemampuan menggunakan teknologi digital secara bijak. Keluarga cerdas menekankan pada membangun budaya literasi keluarga dimana Keluarga didorong untuk menjadikan membaca dan belajar sebagai kebiasaan sehari-hari. Keluarga pintar juga menjadikan keluarga sebagai tempat pendidikan karakter dan membangun spiritualitas melalui penanaman nilai-nilai akhlak seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial melalui keteladanan sehari-hari dan pembiasaan ibadah. Keluarga juga didorong untuk tidak hanya bisa memenuhi wajib pelajar 13 tahun, namun juga berusaha untuk bisa menempuh pendidikan tinggi termasuk melalui upaya mendapatkan beasiswa.
Keluarga Sehat ini menitikberatkan pada keluarga yang menjaga kesehatan fisik, mental, dan lingkungan dengan pola hidup yang baik,. Hal ini diimplementasikan melalui kebiasaan konsumsi makanan bergizi, aktivitas olahraga rutin, menjaga kebersihan lingkungan rumah, serta memastikan akses terhadap layanan kesehatan. Keluarga sehat merupakan fondasi utama untuk membangun kualitas sumber daya manusia yang produktif dan berkualitas. Tidak hanya terbatas pada bebas dari penyakit, tetapi mencakup kesejahteraan fisik, mental, sosial, dan lingkungan yang seimbang. Keluarga sehat juga adalah keluarga yang memberikan perhatian penuh pada upaya memiliki kesadaran untuk pencegahan dini penyakit dan memiliki jaminan kesehatan bagi keluarga melalui pemanfaatan program Cek Kesehatan Gratis (CGK) dan BPJS Kesehatan dari pemerintah
Pilar Keluarga Berkarakter berfokus pada membangun keluarga dengan anak-anak yang memilikikarakter moral dan karakter kinerja. Keluarga menjadi tempat bagi pembentukan karakter moral yang mencakup kejujuran, integritas dan keimanan karena peran keluarga sangat besar dalam pembentukan karakter moral ini yang sanga diperlukan dalam menjalani kehidupan di luar rumah. Keluarga juga menjadi tempat menggesah karakter kinerja yang meliputi kemampuan daya juang, kerja keras, berpikir kritis, kreatif dan inovatif serta adaptif terhadap perubahan. pendidikan karakter tersentral di rumah dengan orang tua sebagai pendidik utama. Sementara itu, guru berperan sebagai teladan yang karakternya terus bertumbuh bersama siswa. Tumbuhnya pemuda yang memiliki karakter moral dan karakter kinerja akan menjadi modal yang kuat dalam menyambut bonus demografi.
produktif, mandiri secara ekonomi, dan mampu berinovasi dalam menghadapi tantangan zaman. Ciri-cirinya antara lain memiliki keterampilan ekonomi, mampu memanfaatkan peluang usaha berbasis rumah tangga, adaptif dalam menghadapi berbagai kondisi melalui inovasi yang dikembangkan serta mengelola keuangan keluarga dengan bijaksana. Filosofi utamanya adalah membangun mentalitas produktif sehingga keluarga tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelaku ekonomi yang berdaya serta mampu membantu dan memberdayakan orang lain. Dalam perspektif Islam, bekerja untuk kemandirian ekonomi dipandang sebagai bagian dari ibadah.
Implementasi dan strategi membangun keluarga cerdas, Sehat dan Berkarakter ini didukung dengan keberadaan RKI yang siap menjadi pendamping keluarga-keluarga di Indonesia dan program di bidang Pendidikan dan Kesehatan. Program-progran dirancang sebagai upaya sistematis, terukur, dan berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan keluarga Indonesia melalui tiga pilar ini. Melalui pelaksanaan berbagai program dalam ketiga pilar ini, diharapkan terbentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan memiliki ketahanan keluarga yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman. Sehingga generasi unggul yang terbentuk melalui keluarga pintar, sehat dan berkarakter ini diharapkan menjadi penggerak utama dalam periode bonus demografi. Melalui keluarga yang menghasilkan generasi yang pintar, sehat dan berkarakter ini, PKS ingin memberi kontribusi lebih besar bagi bangsa. Selamat Milad ke 24 PKS








