Tajuk.co SAN FRANCISCO – Amerika Serikat akhirnya bisa lolos dari babak gugur setelah penantian selama 22 tahun. Sejak 2002 kesebelasan AS tidak penah berhasil melawati fase knock out Piala Dunia FIFA.
Rabu (2/7/2026 pagi WIB baru tim asuhan Mauricio Pochettino mengukir sejarah baru setelah menundukkan Bosnia dan Herzegovina pada Babak 32 Besar di San Francisco Bay Arena Stadium. AS unggul 2-0 sekaligus mengantarkannya ke babak 16 besar.
“Saya sangat bangga dengan tim ini,” ujar Pochettino setelah peluit panjang berbunyi. “Hari ini bukan hanya soal kemenangan itu sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kami meraihnya. Itu adalah hal yang sangat penting. Anda bisa saja menang, tetapi yang benar-benar menentukan adalah cara Anda meraih kemenangan.”
Sejak menit ke-64 AS bermain dengan 10 orang pemain setelah Folarin Balogun diganjar kartu merah. Momentum sempat beralih ke kubu tim tamu, tetapi AS mampu meredam tekanan, bahkan sebelum Malik Tillman menambah gol kemenangan melalui tendangan bebas langsung.
“Saya rasa ini menunjukkan betapa tangguhnya tim kami dan seberapa besar komitmen yang kami miliki,” kata bek Amerika Serikat, Antonee Robinson, kepada FIFA seusai pertandingan.
“Semuanya memang terasa lebih mudah ketika segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan dan Anda bermain bagus. Namun, hari ini kami menemukan cara untuk memenangkan pertandingan meski bermain dengan satu pemain lebih sedikit. Itu menunjukkan bahwa kami semua bergerak ke arah yang sama dan memberikan segalanya bersama-sama,” imbuh dia.
Gelandang Christian Pulisic juga menyoroti respons tim setelah Balogun mendapat kartu merah. Ia mengatakan, “Kami menampilkan performa yang luar biasa. Kartu merah itu jelas sangat disayangkan, tetapi para pemain tidak membiarkan hal itu mengganggu fokus mereka. Semua memberikan segalanya, dan pada akhirnya itulah yang menjadi pembeda.”
Bosnia dan Herzegovina selalu mencetak gol dalam empat pertandingan sebelumnya di Piala Dunia sebelum menghadapi AS. Dengan Edin Dzeko, Ermedin Demirovic, dan Kerim Alajbegovic di lini depan, kekuatan mereka jelas terletak pada sektor serangan. Namun, Stars and Stripes berhasil meredam hampir seluruh ancaman lawan dan menutup pertandingan dengan catatan nirbobol.
“Kami selalu bangga bisa mencatat nirbobol,” ujar Chris Richards kepada FIFA. “Namun bagi kami para pemain bertahan, prinsipnya selalu sama: jika kami menjalankan tugas dengan baik, kami bisa memberi kesempatan kepada para pemain depan untuk menjadi pembeda. Itulah yang terjadi hari ini.”
Selain puas membawa tim lolos ke Babak 16 Besar, Pochettino juga merayakan pencapaian pribadi. Pelatih berusia 54 tahun itu kini menjadi pelatih AS tersukses dalam sejarah Piala Dunia dengan torehan tiga kemenangan di ajang tersebut.
“Tentu saja kami senang jika ada rekor yang tercipta di sepanjang perjalanan, tetapi itu bukan tujuan utama kami,” kata Pochettino
“Tidak jujur jika saya mengatakan rekor seperti itu sama sekali tidak berarti. Itu menyenangkan, tetapi itu bukan fokus kami. Yang terpenting adalah tetap kompetitif, memenangkan pertandingan, menjaga momentum, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi Belgia di Seattle.
“Belgia kini menanti di Babak 16 Besar, tantangan berat berikutnya yang juga diakui Pochettino. “Di Piala Dunia tidak ada pertandingan yang mudah. Hal seperti itu memang tidak ada,” ujarnya.












