Tajuk.co, JAKARTA — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya akan tetap melanjutkan operasi militer di Lebanon meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan damai.
Netanyahu menyatakan pasukan Israel tidak akan meninggalkan wilayah Lebanon sampai seluruh ancaman terhadap keamanan negaranya benar-benar dihilangkan. Menurutnya, perjuangan Israel untuk mengamankan wilayahnya masih belum selesai.
“Israel harus terus berjaga-jaga, terus menjadi kuat, dan terus bertekad untuk membela diri sebisa mungkin,” ujar Netanyahu, Senin (15/6).
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu di tengah konflik yang masih berlangsung di berbagai front sejak Israel melancarkan agresi militer ke Jalur Gaza pada Oktober 2023. Selain perang di Gaza, Israel juga terlibat konfrontasi dengan kelompok Hizbullah di Lebanon serta sejumlah ketegangan di wilayah Suriah.
Menurut Netanyahu, sebagian besar pihak yang terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 telah berhasil dilumpuhkan. Namun, ia meyakini masih ada ancaman yang harus dituntaskan.
“Dia juga akan dilenyapkan. Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris berkemah di perbatasan kita,” kata Netanyahu.
“Kami akan tetap berada di zona penyangga keamanan Lebanon selama diperlukan,” lanjutnya.
Pernyataan itu menjadi respons pertama Netanyahu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan dengan Iran. Dalam kesepakatan tersebut, AS disebut akan mencabut blokade angkatan laut terhadap Iran.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahkan menyebut kesepakatan itu juga mencakup penghentian pertempuran di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon yang selama ini menjadi sasaran serangan Israel.
Meski demikian, sejumlah pejabat Israel secara terbuka menolak anggapan bahwa negaranya terikat dengan kesepakatan tersebut. Mereka beralasan Israel tidak terlibat dalam proses perundingan yang menghasilkan kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Dalam pidatonya, Netanyahu juga menegaskan bahwa tujuan utama Israel tetap sama, yakni memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Ia menyatakan Israel akan terus mengambil langkah yang dianggap perlu untuk mencegah berkembangnya program nuklir Iran, terlepas ada atau tidaknya kesepakatan internasional.
Netanyahu juga membela keputusan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Menurutnya, langkah tersebut berhasil mengurangi ancaman langsung terhadap keamanan Israel.
“Bersama dengan teman-teman Amerika, kita memulai misi serangan terbesar dalam sejarah Israel. Kita telah menggagalkan para ilmuwan nuklir, membunuh para pemimpin rezim teroris, menghancurkan pabrik-pabrik nuklir, menghancurkan rudal dan sebagian besar pabrik produsen rudal,” kata Netanyahu.
“Kita telah menyebabkan kerusakan yang sangat besar. Kita memperkirakan kerugiannya mencapai ratusan miliar dolar, dan beberapa memperkirakan bahkan mendekati satu triliun dolar. Ini kerusakan yang sangat besar bagi perekonomian Iran yang butuh waktu puluhan tahun untuk diperbaiki,” ujarnya.












