LPG Akan Diganti CNG? Ini Perbedaannya dengan LPG dan Fakta yang Perlu Diketahui

Pemerintah mulai menguji CNG sebagai pengganti LPG 3 kg untuk mengurangi impor dan memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah menyebut potensi harga 30–40 persen lebih murah dibanding LPG

Tajuk.co, JAKARTA – Pemerintah tengah menyiapkan transformasi besar dalam penggunaan energi rumah tangga. Setelah hampir dua dekade masyarakat bergantung pada Liquefied Petroleum Gas (LPG), kini pemerintah mulai menguji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti, terutama untuk tabung bersubsidi 3 kilogram.

Program yang mulai memasuki tahap uji coba tersebut direncanakan mulai diproduksi secara bertahap sejak pertengahan 2026. Implementasi awal difokuskan di Pulau Jawa sebelum diperluas ke berbagai wilayah Indonesia.

Langkah ini memunculkan beragam pertanyaan di masyarakat. Mengapa LPG harus diganti? Apa perbedaan CNG dengan LPG? Benarkah tabung maupun gasnya masih bergantung pada impor?

Pergantian LPG ke CNG bukan semata-mata perubahan jenis bahan bakar, melainkan bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.

Masalah utama yang dihadapi Indonesia adalah ketergantungan sangat tinggi terhadap impor LPG. Konsumsi nasional saat ini diperkirakan mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 1,9 juta ton. Artinya, hampir 80 persen kebutuhan LPG masih dipenuhi melalui impor.

Ketergantungan tersebut juga membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena LPG 3 kilogram memperoleh subsidi yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun. Dengan kondisi tersebut, pemerintah mencari sumber energi yang lebih banyak tersedia di dalam negeri.

Perbedaan mendasar antara LPG dan CNG terletak pada kandungan gasnya. LPG sebagian besar terdiri atas propana (C₃H₈) dan butana (C₄H₁₀). Kedua jenis gas tersebut justru tidak melimpah di Indonesia.

Sebaliknya, CNG memiliki kandungan utama berupa metana (CH₄) dengan komposisi lebih dari 95 persen. Gas metana merupakan komponen terbesar gas alam Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Papua, Maluku, Kalimantan, hingga Sumatera.

Karena bahan bakunya tersedia melimpah di dalam negeri, penggunaan CNG diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya nasional.

Meski baru ramai dibicarakan sebagai pengganti LPG rumah tangga, CNG sebenarnya telah digunakan selama bertahun-tahun di Indonesia. Puluhan perusahaan nasional telah memproduksi CNG untuk memenuhi kebutuhan sektor industri, hotel, restoran, hingga pembangkit listrik.

Beberapa dapur penyedia makanan skala besar bahkan telah menggunakan CNG sejak 2025 sebagai bahan bakar memasak. Karena itu, penerapan CNG untuk rumah tangga lebih merupakan perluasan pemanfaatan teknologi yang sudah ada, bukan menghadirkan teknologi baru.

Mana yang Lebih Aman: LPG atau CNG?

Salah satu perubahan yang paling mudah dikenali adalah ukuran tabungnya. Meski sama-sama diperuntukkan sebagai pengganti LPG 3 kilogram, tabung CNG diperkirakan memiliki ukuran lebih besar.

Penyebabnya berasal dari karakteristik gas metana. LPG disimpan dalam bentuk cair sehingga volumenya relatif kecil. Sebaliknya, metana sangat sulit dicairkan pada suhu normal sehingga CNG tetap disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi. Karena masih berbentuk gas, volumenya menjadi lebih besar dibandingkan LPG dengan kapasitas energi yang setara.

Dari sisi keselamatan, CNG memiliki karakteristik yang berbeda dengan LPG. Gas metana memiliki massa jenis lebih ringan daripada udara. Apabila terjadi kebocoran, gas akan naik ke atmosfer dan lebih cepat menyebar.

Sebaliknya, gas LPG yang terdiri atas propana dan butana memiliki massa jenis lebih berat daripada udara sehingga cenderung mengendap di permukaan lantai atau ruang tertutup. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya ledakan apabila terdapat percikan api.

Karena itu, secara teori, CNG memiliki keunggulan dalam mengurangi akumulasi gas di area bawah ruangan saat terjadi kebocoran.

Pemerintah memproyeksikan harga CNG dapat 30–40 persen lebih murah dibandingkan LPG. Efisiensi tersebut berasal dari penggunaan gas alam domestik sehingga biaya impor dapat ditekan.

Namun, besarnya penghematan tersebut masih berupa proyeksi. Efektivitasnya baru dapat dievaluasi setelah implementasi berjalan secara luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *